Pencobaan

Devotion

Pencobaan

1 November 2021

Bacaan: Ibrani 4:14-15

Selama kita masih hidup, pencobaan akan terus datang silih berganti. Iblis tidak pernah berhenti mencobai kita supaya kita jatuh dalam dosa dan menjauh dari Allah. Pencobaan ini memiliki berbagai macam bentuk. Ada kalanya kita dicobai untuk mengingini apa yang bukan milik kita, mungkin juga kita digoda untuk bermain game selama berjam-jam, atau membalas ketika anggota keluarga kita tiba-tiba marah karena salah paham terhadap kita. Semua hal ini sangatlah sulit untuk dihindari. Saat kita merasa dekat dengan Tuhan, kita mungkin dapat berkata bahwa kita sanggup untuk menghadapi setiap pencobaan. Namun, kenyataannya, sudah berapa kali kita menyesali respons kita terhadap pencobaan-pencobaan yang telah kita alami?

Kita mungkin berusaha mencari berbagai nasihat untuk melawan pencobaan ini, baik dari orang-orang berbijaksana, orang yang dekat dengan kita, bahkan dari Mr. Google. Kita berusaha untuk mencari orang dengan pergumulan yang sama, tetapi mungkin kita tetap tidak mendapatkan apa yang kita butuhkan. Kita kemudian akan berpikir, bahwa tidak ada lagi yang dapat mengerti kita.

Namun Alkitab berkata lain, Alkitab berkata bahwa kita memiliki Allah yang mengerti dan mengenal kita luar dan dalam. Ia tidak seperti ilah-ilah cerita yang hanya memberikan perintah dan membiarkan manusia menggunakan kekuatannya sendiri untuk melaksanakan tugas-tugas darinya. Kita memiliki Allah yang rela berinkarnasi ke dalam dunia untuk menjadi teladan bagi kita. Matius 4:1-11 mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus dalam kondisi badan yang sangat lemah, Ia dicobai dan tidak berbuat dosa. Bahkan ketika Kristus disalibkan pun, Ia tidak melakukan dosa dan Ia menggenapi kehendak Allah Bapa. Kita memiliki Tuhan yang pernah menempati posisi kita. Sangatlah mungkin bagi manusia berdosa untuk mengatakan bahwa Allah adalah Allah dan bukan manusia, sehingga Ia tidak akan pernah mengerti penderitaan manusia. Namun, kekristenan tidak memberikan ruang bagi manusia untuk berpikir demikian.

Hanya Tuhan Yesus datang dari sorga ke dunia penuh dosa dengan mengenakan tubuh yang sama seperti kita. Ia mengerti penderitaan kita sepenuhnya. Bahkan Tuhan Yesus telah mati untuk menanggung hal yang tidak Ia lakukan, tetapi untuk menanggung akibat dosa yang telah kita lakukan. Tidak ada penganiayaan yang lebih besar dibandingkan dengan apa yang dialami Yesus ketika Ia disalibkan oleh kepunyaan-Nya sendiri (Yoh. 1:11). Namun walaupun semua itu dialami oleh-Nya, Ia tetap tidak berbuat dosa. Untuk itu, marilah kita dengan rendah hati meneladani Tuhan Yesus, Imam Besar kita, dalam menghadapi setiap pencobaan yang kita alami, serta meminta pertolongan Roh Kudus yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita (Zak. 4:6, Yoh. 14:16-17). (S)