Penyesalan

Christian Life

Penyesalan

4 July 2022

Di sepanjang hidup kita, pasti kita pernah mengalami yang namanya penyesalan. Penyesalan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti perasaan menyesal. Sedangkan menyesal memiliki arti merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dan sebagainya) karena (telah melakukan) sesuatu yang kurang baik (dosa, kesalahan, dan sebagainya).

Mari coba kita ingat baik-baik, tindakan, perbuatan, atau keputusan apa yang kita perbuat dengan mendesak, tanpa pikir panjang, tanpa pertimbangan matang-matang, yang kemudian pada akhirnya kita menyesalinya. Sayangnya, penyesalan kita tersebut tidak dapat membalikkan kondisi yang ada, tidak dapat kita mengulangi lagi peristiwa yang sebelumnya, ataupun kita tidak dapat berbuat sesuatu apa pun untuk memulihkan peristiwa sebagaimana sebelumnya. Kita mau mengorbankan diri kita pun tidak dapat memulihkan akibat perbuatan kita yang bodoh tersebut. Ada tindakan bodoh kita yang hanya berefek kesementaraan, namun ada tindakan bodoh kita yang mendatangkan efek kekekalan.

Ada dua kisah di dalam Alkitab yang menggambarkan tentang tindakan bodoh yang mendatangkan penyesalan tersebut. Yang pertama adalah kisah Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub, adiknya, hanya karena tidak dapat menahan sedikit rasa laparnya dengan semangkok sup kacang merah. Singkat cerita setelah Esau sadar, dia tidak lagi mendapat berkat hak kesulungan dari bapaknya Ishak, Esau menangis sekencang-kencangnya. Bahkan secuil berkat dari hak kesulungan itu pun tidak lagi dia dapatkan. Penyesalan selalu datangnya terlambat. Apa pun yang dilakukannya atau dikorbankannya, Esau tidak lagi bisa mengembalikan hak kesulungan tersebut.

Kisah kedua adalah tentang Yudas yang menjual Gurunya, Yesus Kristus, dengan tiga puluh keping perak kepada para imam kepala dan ahli Taurat. Ketika melihat Gurunya disiksa sedemikian rupa, Yudas menyesal dan ingin mengembalikan tiga puluh keping perak tersebut. Namun para imam dan ahli Taurat tidak mau menerimanya kembali. Yudas menyesal, ia membuang uang tersebut, namun ia tidak mendapatkan kembali Gurunya. Singkat cerita, Yudas kemudian pergi menggantung diri.

Refleksi diri untuk kita dari dua kisah tersebut. Kekekalan apakah yang kita jual demi kenikmatan sementara? Dengan apakah kita menukarkan Yesus demi harta duniawi yang tidak mungkin kita bawa ketika kita mati? Jangan sampai setelah semua kebodohan itu kita lakukan, baru kita menyesal. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Berharap, bukan kita yang mengalaminya. Kiranya Allah berbelaskasihan menolong kita untuk bertindak dengan bijak dan benar. (DS)