Perang dan Doa

Christian Life

Perang dan Doa

1 June 2020

Dalam sebuah perang, pasti ada yang menang dan yang kalah. Perang tidak akan berhenti sebelum musuh dikalahkan. Perang Dunia I tidak akan berhenti sebelum Pasukan Sekutu menaklukkan aliansi Jerman, Austria-Hongaria, dan Italia. Perang Dunia II tidak akan selesai sebelum Hitler mati bunuh diri dan Jepang menyerah. Sebelum mulai perang, setiap kubu harus bersiap-siap, mengatur strategi, mencari kawan, dan mencari kelemahan lawan, tidak ada waktu untuk bersantai dan menjadi lengah. Lengah berarti menyerah dan bersantai berarti siap dibantai. Khususnya di kondisi paling kritis, yaitu sesaat sebelum mulai perang, setiap prajurit akan dengan saksama memperhatikan strategi dan arahan dari komandan. Pada saat bendera perang dikibarkan, maka para prajurit mengarahkan pandangan ke depan, bergerak maju, dan membidik musuh. Prajurit yang baik akan mengingat arahan dan strategi dari komandan dan peka melihat gerak-gerik musuh, sedangkan prajurit yang bodoh meremehkan musuh dan melupakan semua arahan dan strategi setelah mendengar tembakan peluru pertama.

Kehidupan Kristen juga adalah peperangan, melawan musuh segala zaman, yaitu Iblis yang punya strategi jauh lebih canggih daripada kita. Selama ribuan tahun, miliaran manusia telah dijatuhkan olehnya dan dia terus mencari mangsa seperti singa yang kelaparan. Maka, orang yang merasa mampu mengalahkan Iblis sudah kalah sebelum perang dimulai. Manusia dengan kekuatan dan pikirannya sendiri pasti gagal melawan tipu muslihat Iblis. Oleh sebab itu, satu-satunya cara untuk memenangkan peperangan ini adalah dengan mengikuti arahan dari komandan kita, yaitu Yesus Kristus yang bukan hanya tahu menyusun strategi, tetapi Dia sudah menjadi manusia dan telah menaklukkan setiap godaan si jahat dan kebangkitan-Nya menyatakan Iblis telah gagal mengalahkan Dia. Dengan demikian, hanya orang yang di dalam Dia yang dapat menang atas setan. Artinya, hanya persekutuan dengan Tuhan Yesus melalui doa dan perenungan firman setiap saat, orang Kristen dapat mengalahkan Iblis. Berdoa berarti mengibarkan bendera perang dan firman Tuhan adalah senjatanya. Doa bukan terus-menerus meminta sesuatu dari Tuhan untuk kepentingan diri, tetapi persekutuan yang intim dengan Tuhan untuk mengerti strategi Tuhan, sehingga kita siap memasuki peperangan rohani. Prajurit yang baik tidak akan duduk dan minum kopi saat bendera perang dikibarkan. Berdoa menyerahkan segala pergumulan kepada Tuhan berarti, kita harus lebih waspada dan lebih sigap menghadapi musuh sesuai kehendak Tuhan, bukan malah tenang dan membiarkan keadaan berjalan secara autopilot. Kiranya kita selalu siap berperang dan memenangkan peperangan yang tidak kelihatan ini, bukan terus-menerus dikalahkan oleh musuh yang telah kalah itu. (EJ)