Percayalah kepada-Nya!

Devotion

Percayalah kepada-Nya!

17 May 2021

Bacaan: Kisah 27:10-11

Perjalanan Paulus di kapal menuju ke Roma dilanda oleh badai yang begitu mengerikan. Paulus sudah berusaha memperingatkan perwira Romawi untuk menunda perjalanan. Paulus sendiri sebenarnya memiliki banyak pengalaman berlayar di atas kapal karena harus menginjili di berbagai tempat. Maka ketika ia melihat cuaca dan betapa sulitnya perjalanan pertama yang dilalui, ia menyarankan untuk tidak melanjutkan pelayaran kapal. Akan tetapi perwira tersebut lebih percaya kepada juru mudi dan nahkoda dibandingkan Paulus (Kis. 27:11).

Paulus tahu bahwa ia harus sampai di Roma dengan selamat untuk bersaksi kepada kaisar (Kis. 23:11). Sebagai seorang warga negara Romawi, ia bisa saja menuntut haknya untuk mendapatkan perlindungan khusus supaya ia bisa dengan selamat sampai di Roma. Namun Paulus tidak ingin menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dan lebih memilih untuk disamakan dengan tahanan lainnya. Paulus akhirnya menyerahkan dirinya untuk naik ke atas kapal.

Kita mungkin berpikir Paulus begitu bodoh karena menaruh dirinya dalam kecelakaan. Normalnya, kita pasti akan berusaha menghindarinya jikalau kita tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Jikalau kita ada di posisi Paulus yang memiliki hak istimewa, kita mungkin akan mencari cara dan bahkan ngotot supaya kapal tidak berlayar. Kita selalu memikirkan bagaimana caranya supaya nyawa kita bisa terselamatkan dan tetap aman. Namun tidaklah demikian dengan Paulus. Yang Paulus pikirkan bukanlah keselamatan dirinya, tetapi pelayanan yang harus ia selesaikan. Ia menyerahkan dirinya untuk ikut berlayar bukan karena putus asa, melainkan karena ia percaya Tuhan selalu berpegang pada janji-Nya untuk besertanya ketika ia mengutamakan Tuhan (Mat. 6:33).

Dari kisah Paulus ini kita melihat bahwa percaya kepada Allah merupakan hal yang begitu sederhana, namun kenyataannya begitu sulit bagi kita untuk melaksanakannya. Ketika diberikan kemudahan, kita begitu gampang untuk percaya bahwa Allah yang baik sedang menyertai kita. Akan tetapi ketika kita mengalami kesulitan, kita akan dengan gampang berubah pikiran dan menganggap bahwa Allah itu tidak senantiasa baik. Mungkin kita percaya bahwa Allah senantiasa menggenapi kehendak-Nya, tetapi kita juga merasakan bahwa Allah tidak di pihak kita. Betapa egoisnya diri kita karena kita jadikan diri kita pusat segala sesuatu! Kita rasa kita berhak menuntut Allah senantiasa berdiri di pihak kita (artinya Allah senantiasa mengikuti kehendak kita) dan bukan kita di pihak Allah (kita yang turut kepada kehendak Allah). Marilah kita belajar untuk berfokus dan mengarahkan hidup kita kepada Allah dan kehendak-Nya, bukan kepada diri dan kehendak kita. Biarlah kita meminta belas kasihan Tuhan supaya dipakai untuk menjadi alat yang menggenapi kehendak-Nya, bukan menjadi orang yang melawan kehendak-Nya dengan lebih mementingkan kehendak kita. (S)