Pergumulan

Christian Life

Pergumulan

20 November 2017

Habakuk 3:1-19

Kitab nabi Habakuk ini merupakan kitab nabi yang unik, karena tidak berisi nubuatan langsung terhadap kerajaan Yehuda. Tidak seperti kebanyakan kitab yang ditulis oleh nabi-nabi seperti Yeremia dan Yehezkiel yang secara langsung menuliskan mengenai kehancuran bangsa Yehuda serta adanya rancangan pemulihan bagi bangsa Israel, kitab Habakuk ini berisi mengenai percakapan nabi Habakuk dengan Allah. Percakapan berbalas-balasan yang dimulai dengan ratapan Habakuk atau keluhan Habakuk terhadap penderitaan yang dia saksikan (Hab. 1:1-4). Lalu Allah merespon dengan menjelaskan apa yang sebenarnya Ia kerjakan (Hab. 1:5-11). Selanjutnya Habakuk mempertanyakan juga mengenai mengapa kerajaan Babel yang jahat “diizinkan” menghancurkan bangsa Israel. Habakuk sendiri sulit mengerti akan pekerjaan Tuhan, yang membuatnya mempertanyakan keadilan Tuhan. Hal ini juga menyatakan ratapan dari orang-orang percaya atau orang-orang benar yang masih tinggal di Yehuda, yang mempertanyakan mengapa Tuhan memakai bangsa Babel yang sangat kejam untuk menghancurkan umat-Nya. Kemudian Allah merespon bahwa suatu saat kerajaan Babel juga akan dihancurkan (Hab 2). Pada pasal 2, Tuhan membukakan kepada nabi Habakuk bagaimana seharusnya orang percaya melihat keadaan dunia, dan bagaimana seharusnya orang percaya bersikap. Pada pasal 2 ini terdapat satu kalimat yang merupakan inti ajaran Kristen yaitu, “... orang benar itu akan hidup oleh percayanya.” (Hab. 2:4b). Kalimat ini pun beberapa kali dikutip pada kitab Perjanjian Baru.

Habakuk 3 merupakan penutup dari kitab ini, yang merupakan doa permohonan dengan nada ratapan (suatu bentuk mazmur). Setelah pergumulan yang dialami nabi Habakuk karena tidak mampu mengerti pekerjaan Tuhan, nabi Habakuk menutup kitab ini dengan suatu permohonan doa dan komitmen. Hal ini dilakukannya karena Allah yang terlebih dahulu membukakan apa yang sesungguhnya telah Ia kerjakan dan nabi Habakuk tidak mengeraskan hati, melainkan ia mau setia menantikan pekerjaan Tuhan yang luar biasa. Pada ayat 16-19 merupakan pernyataan imannya bahwa ia akan tetap berpegang kepada Tuhan, tidak bergantung kepada keadaan.

Percakapan dengan Allah pada pasal yang pertama dan kedua menyatakan pergumulan iman Habakuk saat itu. Akan tetapi, doa nabi Habakuk pada pasal yang ke-3 menyatakan sukacita akan kemenangannya di dalam Tuhan yang membuat ia mampu menyatakan iman-Nya meskipun kehidupan mungkin tidak enak dan tidak sesuai keinginan. Habakuk yang tadinya meratap mengeluh kepada Tuhan akan ketidakadilan dan perbuatan bangsa Babel terhadap Yehuda, akhirnya berbalik kepada Tuhan dan boleh mengerti apa yang Tuhan sedang kerjakan. Karena Habakuk mengetahui bahwa Allah akan membalas setiap kejahatan, maka bangsa Babel akan dihancurkan. Nabi Habakuk boleh dimengertikan melalui penjelasan yang Allah berikan mengenai rancangan yang sesungguhnya bagi orang – orang fasik.

Hidup kita sebagai orang percaya mungkin sama seperti nabi Habakuk yang kadangkala merasa Allah tidak adil, mengapa Allah membiarkan umat-Nya ditindas oleh orang fasik. Kita dapat belajar seperti nabi Habakuk yang mau bergumul di hadapan Tuhan, dan mau belajar melihat dari kacamata Tuhan. Sebagai orang percaya, terkadang kita tidak mau melatih iman percaya kita dengan pergumulan. Kita sudah sangat nyaman dengan aktivitas rohani kita yang sudah kita anggap cukup. Namun seringkali pada saat datang pergumulan, kita cenderung meninggalkan yang rohani dan menggunakan kacamata dunia kita.

Mari belajar bahwa di dalam setiap pergumulan yang kita alami, Tuhan merancangkan suatu pertumbuhan iman, yang membawa kita semakin bergantung kepada Tuhan. Mari belajar untuk tidak mengeraskan hati ketika datang suatu pergumulan, dan mau melihat apa yang Tuhan kehendaki. Bukankah sebagai orang Kristen yang sejati kita merindukan suatu pertumbuhan iman? Namun apakah pertumbuhan iman dapat diperoleh dengan mudah? Cukup hanya dengan aktivitas rohani yang sangat padat yang menyenangkan hati kita tanpa disertai pergumulan yang meneteskan air mata? 

Tuhan sudah menyatakan keselamatan bagi setiap orang percaya. Habakuk boleh beriman bahwa orang benar akan hidup oleh percaya. Kita yang telah dianugerahkan keselamatan, yang sudah menjalankannya, sudahkah iman kita seperti Habakuk? Mari kita belajar seperti nabi Habakuk, yang mampu berkata, “walaupun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan,” ia akan tetap bersorak-sorai di dalam Tuhan. Nabi Habakuk tetap setia melihat dari kacamata Tuhan, yang mungkin tidak dapat kita mengerti. Ia tetap mau mengerti rancangan Tuhan yang sesungguhnya sehingga ia boleh semakin bertumbuh, meskipun semakin banyak pergumulan dalam hidupnya. Ketika sudah lulus tapi ga sukses2 amat, rencana studi, kehidupan tidak sesuai harapan, ada persoalan dengan keluarga, mungkin mudah bagi kita untuk tidak perlu bergumul lagi dan terus melihat dari kacamata kita yang berdosa serta meninggalkan Tuhan dengan mengambil jalan yang kita mau. Tapi mari belajar seperti nabi Habakuk bahwa di dalam pergumulan yang luar biasa, kita akan dimampukan untuk menyatakan komitmen yang luar biasa untuk mau semakin bertumbuh di dalam Tuhan dan semakin bergantung kepada-Nya. Kira-Nya kita boleh semakin dipertumbuhkan oleh anugerah Tuhan, ketika kita mau belajar untuk tidak mengeraskan hati kita saat datang pergumulan dan mau taat kepada kehendak Tuhan. (RP)