Pernahkah Kita Membantu Tuhan?

Devotion

Pernahkah Kita Membantu Tuhan?

10 June 2024

Pernah ga sih kita terlibat dalam sebuah pelayanan di mana kita harus mengorbankan banyak hal untuk bisa melayani? Misalnya, kita harus membayar uang yang cukup mahal dari kantong pribadi untuk bisa ikut sebuah pelayanan atau kita dengan bersusah payah harus mengatur jadwal kerja/kuliah dan bahkan mengambil cuti untuk bisa ikut pelayanan tersebut. Intinya, kita harus melakukan sesuatu yang kita pikir sangat menyusahkan kita untuk bisa terjun dalam pelayanan. Kalau kita pernah mengalami hal tersebut, apa yang kita pikirkan pada saat itu?
“Sudah bagus saya mau melayani, kok ini malah disuruh bayar?”
“Saya sudah rela sampai mengambil cuti nih untuk bisa ikut pelayanan, masa saya ga dapat imbalan atau privilege apa-apa sih?”
Pernahkah kita berespons seperti demikian? Jika kita pernah, maka sesungguhnya kita belum memahami semangat pelayanan yang benar. Kita bisa berespons demikian karena ketika kita sedang melayani, kita berpikir bahwa kita sedang berkontribusi dan sedang membantu Tuhan melakukan pekerjaan-Nya. Karena setidaknya kita sudah berkontribusi dengan memberikan waktu dan tenaga, maka janganlah kita dibebani dengan additional cost yang lain, atau setidaknya kita dapat imbalan, meskipun sedikit saja (mungkin bisa dalam bentuk pujian dari orang lain, suvenir, konsumsi, ataupun hal yang lainnya).
Ya, kita berpikir demikian karena kita merasa bahwa hidup kita, harta benda yang kita miliki, waktu yang kita punya, dan talenta yang kita miliki, semua ini adalah milik diri kita sendiri. Maka, jika kita mengorbankan hal-hal tersebut demi pelayanan, kita berpikir kita sedang memberikan milik kita dan berjasa besar.
Sebagai orang Kristen kita seharusnya sadar bahwa segala hal yang kita miliki adalah bukan milik kita. Kita bisa hidup hari ini karena Tuhan yang memberikan kita hidup. Seluruh keberadaan hidup kita berasal dari Tuhan dan adalah milik Tuhan. Jadi, ketika kita melayani kita bukan sedang berkontribusi atau membantu Tuhan. Bagaimana bisa ada istilah “kita membantu Tuhan” kalau diri kita sendiri adalah kepunyaan Tuhan? Oleh sebab itu, orang Kristen seharusnya jangan berpikir bahwa kita sedang membantu Tuhan, melainkan Tuhan yang sedang beranugerah kepada kita. Kenapa ini disebut anugerah? Karena kita sama sekali tidak layak melayani Tuhan. Kesadaran akan ketidaklayakan ini sangat penting karena inilah yang menentukan pengertian kita akan anugerah dan akhirnya menentukan sikap kita dalam sebuah pelayanan. Jika kita sadar bahwa kita tidak layak, maka kesempatan untuk bisa melayani adalah privilege yang besar. Jika kita tahu kita tidak layak, maka tidak ada pengorbanan yang kita berikan. Yang ada hanyalah ucapan syukur karena Tuhan begitu baik masih mau memberikan kesempatan kepada kita serta memakai kita untuk pekerjaan-Nya.
Jadi, jangan pernah berpikir kita sedang membantu Tuhan, melainkan mengucap syukurlah dan melayani dengan lebih sungguh karena Tuhan masih beranugerah dan masih mau memakai kita untuk melayani-Nya. (SI)