Prajurit Kristus

Devotion

Prajurit Kristus

1 August 2022

Seorang prajurit mendedikasikan bertahun-tahun waktu dalam hidupnya untuk dibentuk dalam pendidikan militer. Prajurit akan dilatih untuk mendengar dan tidak menolak perintah komandannya, serta selalu siap diutus ke mana pun untuk berperang. Pendidikan militer membentuk prajurit untuk senantiasa berada dalam mode perang. Seorang prajurit memiliki pengertian dalam hatinya bahwa peperangan adalah perebutan nasib, perebutan antara hidup dan mati. Mereka siap kapanpun diutus untuk mengangkat senjata dan pergi berperang, meskipun nyawa taruhannya. Karena peperangan bukan sesuatu yang ringan dan dapat dibawa santai.

Di dalam 2 Korintus 6:14, dikatakan bahwa, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” Paulus mengontraskan antara orang percaya dengan orang tidak percaya, antara kebenaran dengan kedurhakaan, serta antara terang dengan gelap. Ben Chen, pembicara dalam acara Reformasi 500 tahun pada 5 tahun lalu di Jakarta mengatakan, “The intersection between light and darkness is a warfare.”

Orang Kristen bukan lagi milik dunia, tetapi milik Kristus. Kita bukan lagi hidup bagi dunia, tetapi hidup bagi Kristus. Kita bukan lagi membangun kerajaan setan, tetapi kita membangun Kerajaan Allah. Kita bukan lagi berperang melawan Kristus, tetapi berperang melawan setan. Menjadi seorang Kristen bukan sekadar mengutip ayat Alkitab agar terlihat lebih rohani, mengenakan kalung salib, dan lain-lain. Tentu tidak salah jika kita mengutip ayat Alkitab atau mengenakan kalung salib. Namun, lebih daripada hal-hal yang ditunjukkan keluar, kita perlu memiliki kesadaran bahwa hidup sebagai orang-orang yang dimiliki Kristus berarti hidup yang sedang berperang dengan setan.
Umumnya, pengertian berperang dengan setan yang kita miliki adalah ketika ada kegiatan khusus, misalnya Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Kegiatan besar seperti ini membuat kita menjadi giat berdoa, memohon kepada Tuhan agar peperangan rohani ini dapat dilewati dengan baik, banyak orang yang bertobat, menerima panggilan

Tuhan, dan seterusnya. Namun, sekali lagi, persimpangan antara terang dan gelap adalah peperangan. Seluruh hidup orang Kristen adalah peperangan dengan setan, bukan hanya dalam momen-momen tertentu. Setiap momen dalam hidup seorang Kristen adalah peperangan dengan setan. Sedikit saja kita salah langkah, maka setan membuat kita tidak tertarik dengan firman Tuhan. Sedikit saja kita lalai, maka setan membuat kita lebih mencintai uang daripada gereja Tuhan. Sedikit saja kita lengah, maka setan akan manfaatkan tubuh kita untuk hidup liar. Sedikit saja kita terpeleset, maka setan membuat kita meremehkan ibadah hari Minggu. Jika hidup dijalani dengan santai, maka setan akan bergerak dengan mudah untuk merebut kita dari Kristus.

Tidak ada prajurit yang berperang dengan santai. Bahkan, sebelum sampai ke medan peperangan pun, sudah ada kesadaran dalam dirinya bahwa ini adalah penentuan nasib hidup atau mati. Prajurit yang berperang akan mengikuti apa yang diarahkan oleh komandannya dan dia akan melakukannya tanpa ragu. Hidup kita adalah sebuah peperangan, apakah ada di pihak Allah atau di pihak setan. Kristus berjalan di depan kita sebagai panglima perang itu. Sudahkah perintah Sang Panglima perang itu kita dengar? Sudahkah kita menjadi prajurit-prajurit sejati Kristus? (SN)