Rahel Dan Kedaulatan Allah

Christian Life

Rahel Dan Kedaulatan Allah

27 July 2020

Sejak kejatuhannya dalam dosa, manusia sulit menaklukkan dirinya di bawah kedaulatan Allah (padahal dia tidak mungkin bisa melepaskan diri dari kedaulatan Allah). Keinginan diri menjadi sangat penting dan harus dipenuhi. Manusia merasa selalu layak mendapatkan yang baik seturut pandangannya dan marah ketika mendapatkan yang tidak diingininya, sehingga tanpa disadari manusia sering kali mempersalahkan Allah. Ketika kita tidak puas dengan apa yang Allah berikan, sesungguhnya kita sedang menghina Allah dengan menganggap Allah kurang bijak dalam memperlakukan kita. Dengan kata lain, kita boleh saja mengatakan bahwa kita percaya doktrin kedaulatan Allah, tetapi sesungguhnya kita tidak percaya dan menghidupi doktrin tersebut.

Hal ini juga dialami oleh Rahel. Rahel yang cantik dan baik adalah anak bungsu Laban. Ia dengan rajin menggembalakan kambing domba ayahnya. Suatu hari, ketika Rahel pergi ke sumur untuk memberi minum kambing dombanya, ia bertemu dengan Yakub untuk pertama kalinya. Pada pertemuan pertama tersebut mereka berdua saling jatuh hati. Rahel langsung menceritakan ke ayahnya, bahwa ia telah bertemu dengan Yakub. Laban menyambut Yakub, keponakannya dengan hangat dan menerima Yakub untuk bekerja baginya dengan syarat Yakub boleh mendapatkan Rahel setelah bekerja tujuh tahun dengan Laban. Tujuh tahun berlalu dengan cepat. Ketika pada waktunya Yakub mendapat Rahel, Laban menipu Yakub dengan memberikan Lea, kakaknya Rahel malam itu. Lea tidak cantik dan tidak dicintai oleh Yakub. Yakub tetap menginginkan Rahel, namun ia harus bekerja tujuh tahun lagi dengan Laban. Bagi Yakub, tujuh tahun tidak masalah, sebab ia sangat ingin mendapatkan Rahel.

Singkat cerita Yakub akhirnya mempunyai dua istri: Lea dan Rahel. Yakub yang mempunyai dua istri tidak mungkin berlaku adil. Lea tidak dicintainya, tetapi Allah mengingat Lea, sehingga membuka kandungannya. Lea dapat memberikan keturunan bagi Yakub dan ia berharap Yakub dapat mencintainya. Bagaimana dengan Rahel? Allah menutup kandungan Rahel. Zaman itu, mandul dianggap sebagai kutukan Allah. Pastinya Rahel sangat iri dengan Lea. Ia tidak bisa terima bahwa Lea terus melahirkan anak, sedangkan ia tidak. Ia khawatir Yakub tidak mencintainya seperti semula, maka Rahel memaksa Yakub supaya ia bisa memiliki anak. Yakub pun marah dan berkata kepadanya, “Akukah pengganti Allah yang telah menghalangi engkau mengandung?”

Rahel sulit menerima kedaulatan Allah ketika tidak menguntungkan dirinya. Ia tidak protes kepada Allah kalau ia cantik dan punya sikap yang baik. Rahel merasa layak untuk mendapatkan yang baik dari Allah. Bukankah kita juga sama seperti Rahel? Kita merasa Allah wajib memberikan kita yang terbaik menurut kita. Kita hanya menerima kedaulatan Allah sebagian. Apa yang menguntungkan kita, pasti kita menerimanya dengan mudah, bahkan mungkin lupa mengucap syukur kepada Allah, tetapi kita dengan sangat mudah mengeluh ketika menerima yang kita tidak suka, entah itu kondisi fisik kita, peristiwa yang terjadi kepada kita, maupun orang-orang yang Allah tempatkan di sekitar kita. Bukankah semua itu juga di dalam kedaulatan-Nya? Kita jelas tahu bahwa Allah tidak pernah salah dalam seluruh kehidupan kita. Pengertiannya sederhana: karena Dia adalah Allah. Tidak mungkin Allah bisa bersalah! Oleh karena itu marilah kita belajar menghidupi doktrin yang telah kita percayai! Belajar bersyukur atas kedaulatan Allah dalam seluruh hidup kita, baik yang menyukakan kita maupun tidak. Mari kita meminta hikmat kepada-Nya untuk bisa meresponi secara benar sehingga kita dapat bertumbuh melalui berbagai hal yang kita suka maupun tidak tersebut. Kiranya Allah menolong kita. Amin. [EJ]