Reformasi di Hati Mereka dan Saya

Christian Life

Reformasi di Hati Mereka dan Saya

26 February 2018

Siapa yang tidak kenal dengan nama-nama berikut: Martin Luther, John Calvin, Theodore Beza, William Farel, dan John Knox? Betul, mereka adalah para reformator abad ke-16 yang berjuang mati-matian demi kemuliaan Tuhan dan Gereja-Nya. Apa yang sebenarnya mereka perjuangkan sampai-sampai mereka rela dikucilkan oleh dunia? Para reformator berjuang agar Gereja kembali kepada firman Tuhan karena gereja pada masa itu sudah sedemikian parahnya menyimpang dari ajaran yang sejati. Oleh sebab itu, mereka semua sangat menekankan khotbah dan pengajaran. Khotbah tentang apa? Mereka mengkhotbahkan Injil keselamatan dan firman Tuhan secara utuh karena mereka percaya bahwa Injil adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan orang yang berdosa (Rm. 1:16). Mereka percaya bahwa firman Tuhan saja sudah cukup untuk menarik hati orang yang berdosa kembali kepada Tuhan dan beribadah hanya kepada-Nya.

Kita semua tentu setuju dengan pandangan para reformator dan surat Roma 1:16, namun apakah hati kita benar-benar mempunyai keyakinan yang sama seperti para reformator dalam hal kecukupan akan firman Tuhan? Ketika hanya ada sedikit orang yang datang ke persekutuan atau gereja kita, apa yang ada di benak kita pertama kali? Apa strategi kita agar minggu depan bisa lebih banyak orang yang datang? Respons pertama kita mungkin adalah dengan memperbanyak acara kebersamaan, games, makan-makan, pakai musik-musik yang keren, pakai alat musik yang seru, undang pembicara yang lucu, atau undang orang terkenal. Ketika kita mengundang teman kita untuk datang ke gereja, ajakan seperti apa yang kita lakukan? “Ke gereja yuk, nanti ada makan-makan loh. Pemuda-pemudanya gaul dan seru, ikut persekutuan yuk”? Semua kalimat-kalimat tersebut hanya menandakan satu hal: betapa kita sesungguhnya tidak percaya bahwa firman yang diberitakan itu cukup untuk menarik hati orang berdosa.

Kita pikir bahwa firman Tuhan pada zaman sekarang kurang ada kuasa menarik orang-orang untuk datang ke gereja, sehingga harus ada tambahan yang lain. Secara tidak sadar kita telah mengakui bahwa tambahan-tambahan itu ternyata lebih berkuasa daripada firman Tuhan. Ketidakpercayaan kita terhadap kuasa Tuhan dan kompromi seperti inilah yang pada akhirnya dapat merusak gereja Tuhan. Ingat, pertama kalinya manusia rusak adalah karena Adam dan Hawa tidak sepenuhnya percaya kepada perkataan Tuhan (firman Tuhan) yang mutlak di Taman Eden; mereka meragukan konsekuensi dari larangan Tuhan (Kej. 3:4-6) dan tidak sepenuhnya percaya pada providensia Allah. Seolah-olah dengan mereka memiliki pengetahuan yang baik dan jahat, mereka dapat membuat hidup mereka menjadi lebih limpah dan aman. Betapa kita juga tidak sepenuhnya percaya kepada Tuhan, ketika kita menunjukkan sikap seperti di atas.

Ini bukan berarti kita tidak perlu melakukan apa-apa dan hanya sekadar diam saja berharap Tuhan yang menghadirkan orang-orang ke dalam persekutuan dan gereja. Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia selalu berjalan berdampingan. Oleh sebab itu, yang sebaiknya kita lakukan adalah membaca firman Tuhan, mendalami, memperbaiki, meningkatkan kualitas khotbah, dan lebih bersungguh-sungguh berdoa memohon Tuhan mendatangkan orang, serta lebih rajin menjangkau dan mengajak orang lain untuk datang ke persekutuan (tentunya bukan dengan mempromosikan makan-makan dan hal-hal lainnya). Semua ini dilakukan dengan satu keyakinan yang teguh bahwa firman Tuhan saja cukup untuk menjadi daya tarik yang penuh kuasa bagi manusia. Ia cukup untuk mengubah hati orang berdosa agar nama Allah dipermuliakan.

Berbicara mengenai Reformasi, marilah kita melihat diri kita terlebih dahulu. Sesungguhnya Reformasi bukanlah sekadar peristiwa yang terjadi lima abad yang lalu. Reformasi adalah sesuatu yang masih harus dilakukan sampai hari ini; Reformasi begitu dekat dengan hidup kita. Kiranya Tuhan yang menolong agar kita terus menerus mereformasi keyakinan kita akan kecukupan firman, kuasa, dan kedaulatan Tuhan atas gereja dan persekutuan kita. (IT)