Rendah yang Tinggi dan Tinggi yang Rendah

Christian Life

Rendah yang Tinggi dan Tinggi yang Rendah

16 October 2017

“Barang siapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat. 23:11-12)

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah pemuka agama yang sangat terpandang di kalangan orang Yahudi karena pengetahuannya yang tinggi tentang Taurat dan adat istiadat orang Yahudi. Namun beberapa perikop di Alkitab menceritakan teguran keras Yesus terhadap kemunafikan mereka yang dengan ketatnya mengajarkan Taurat namun hidup mereka sendiri penuh kecemaran dan jauh dari prinsip Taurat yang sesungguhnya. Mereka tahu banyak tapi berbuat sedikit. Yang mereka cari adalah penghormatan dan penghargaan atas jabatan keagamaan tanpa menjadi teladan yang nyata. Mereka yang seharusnya menjadi representatif dari Kerajaan Sorga, tetapi pada kenyataannya justru hanya menjadi representatif dari “kerajaan” diri mereka sendiri. Mereka adalah pengajar, namun bukan murid kebenaran.

Sebaliknya Tuhan Yesus yang adalah Allah, dan penggenapan Hukum Taurat itu sendiri berlaku tidak demikian. Ia mengajar orang banyak tentang kebenaran sekaligus menjadi teladan yang sesungguhnya. Ia tidak mengejar pujian dari orang banyak melainkan rela untuk dihina, dilecehkan, demi taat kepada kehendak Bapa di sorga. Di sinilah kita dapat melihat dengan jelas perbandingan antara kesombongan orang Farisi serta ahli Taurat dan kerendahhatian Yesus.

Ketika para ahli Taurat dan orang Farisi berdoa di tengah jalan supaya dilihat orang, Yesus memilih untuk berdoa di tempat yang sunyi di mana tak ada satu pun orang yang melihat-Nya. Ketika para ahli Taurat dan orang Farisi memakai jumbai yang panjang pada punca dari baju mereka, Yesus rela pakaian-Nya dikoyakkan bahkan membiarkan orang-orang membuang undi atas pakaian tersebut. Lebih dari itu, Ia pun disalib tanpa menggunakan pakaian yang layak.

Sungguh keteladanan soal kerendahan hati yang luar biasa dari Yesus. Mari kita belajar rendah hati dari Yesus, seperti ada tertulis: “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat. 20:28)

Dunia mengatakan jika ingin menjadi orang hebat, seseorang harus punya jabatan, kekuasaan, uang yang banyak, namun Yesus mengajarkan hal yang berbeda. “Besar” versi Yesus adalah menjadi pelayan. Pelayan yang sejati tentu akan mengutamakan kepentingan Tuannya dibandingkan kepentingan diri sendiri. Dalam hal ini Yesus tidak mencari pujian atau penghargaan dari manusia, melainkan hal tersebut lahir dari ketaatan-Nya dalam menjalani kehendak Bapa meskipun harus sampai dihina, dilecehkan oleh orang-orang sekitarnya.

Ketika Yesus memerintahkan setiap murid-Nya untuk melayani satu sama lain, Ia sudah terlebih dahulu memberikan teladan. Ia bukanlah Guru yang hanya pandai memberikan teori belaka, melainkan Ia pun adalah teladan yang sejati. Mari kita belajar untuk mengajar dan menuntut diri kita sendiri lebih keras terlebih dahulu sebelum mengajar dan menuntut orang lain berlaku demikian. Dalam hal ini Yesus memberikan teladan yang nyata bagaimana menyelaraskan apa yang Dia ajarkan dengan apa yang Dia sendiri kerjakan dalam pelayanan-Nya di dunia.

Kiranya Tuhan menyertai kita untuk hidup rendah hati, mau terus diubahkan oleh firman Tuhan, dan hidup kita boleh menjadi semakin serupa dengan Kristus yang menjadi teladan nyata bagi orang-orang sekitar. Amin. (MMS)