Right Anger

Christian Life

Right Anger

12 October 2020

Bacaan: Matius 5:21-26

Salahkah untuk marah? Toh Tuhan Yesus juga pernah marah, demikian pembelaan orang-orang yang sudah pernah membaca Alkitab. Coba kita tenang sejenak dan memikirkan, dalam hal apa saja biasanya kita terpancing untuk marah? Saat kenyamanan kita terganggu? Saat ada prasangka buruk? Atau saat mau mempertahankan harga diri kita? Ya, mungkin karena hal-hal tadi, kita bisa marah, mengamuk, bersikap kasar, bertindak jahat, atau bahkan menyakiti orang-orang yang kita sukai.

Kalau benar seperti demikian, marah itu jelas salah. Marah itu salah ketika marah muncul tanpa sebab yang jelas, tanpa tujuan yang baik, atau ketika keukeuh alias bersikeras mempertahankan kemarahan kita. Misalkan kita marah atas kesalahan sepele orang lain, yang padahal kesalahan tersebut sering juga kita lakukan. Atau kita bisa marah atas celaan-celaan sepele yang sebenarnya tidak layak untuk dipermasalahkan. Marah juga salah ketika kita hanya marah demi menunjukkan kekuasaan kita dan kita mau memuaskan nafsu kita, dan bahkan ingin membalaskan dendam kita.

Selain salah, marah juga berbahaya. Sejak Kitab Kejadian, kita sudah diperingatkan mengenai marah dalam hati yang berujung kepada pembunuhan, seperti yang dilakukan oleh Kain. Kain menyimpan kemarahan di dalam hati kepada saudaranya, dan pada akhirnya itu berujung kepada pembunuhan.

Tuhan Yesus memang pernah marah, namun kemarahan-Nya dengan kemarahan kita adalah berbeda. Tuhan Yesus marah ketika Ia berduka akan kemunafikan (Mrk. 3:1-5), kesalahmengertian yang fatal (Mat. 21:12-13), tidak adanya buah (Mrk. 11:14), dan juga karena ketidakpercayaan (Mrk. 9:19). Semua hal itu bukanlah seperti marah yang biasa kita lakukan, yaitu ketika diri kita diganggu. Saat dirinya dicaci, dihina, disiksa, Tuhan Yesus diam seperti domba yang dibawa ke pembantaian. Bahkan saat Ia diperlakukan secara tidak pantas di atas kayu salib pun, Tuhan Yesus menanggapi dengan perkataan, “Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Kemarahan Tuhan Yesus bukanlah kemarahan egois di dalam dosa dan karena dosa; tetapi kemarahan yang suci, kemarahan di dalam kebenaran yang menuntut manusia untuk bertobat. Marah yang seperti ini adalah marah atas dasar cinta kasih. Kita lebih sering marah karena diri kita yang terganggu, tetapi kita begitu “kalem” ketika terjadi suatu dosa atau ada hal yang mengganggu-gugat Tuhan dan kebenaran-Nya.

Mari kita belajar beremosi dengan benar, khususnya kemarahan yang benar. Kepekaan akan kesucian Tuhan membuat kita pasti tidak diam menyaksikan ketidakbenaran. Kiranya Tuhan menolong kita untuk marah pada waktu, tempat, dan kondisi dengan benar. Amin. (TH)