Rut

Devotion

Rut

17 August 2020

“Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1:16-17)

Kalimat ini adalah pernyataan dari Rut, seorang wanita Moab kepada mertuanya, Naomi. Setelah berpindah lebih dari sepuluh tahun lamanya ke Moab, Naomi hendak kembali ke kotanya, yaitu Betlehem, karena masa kelaparan sudah berlalu di negerinya. Saat itu hanya tinggal Naomi dan kedua menantunya, Rut dan Orpa. Di tengah perjalanan, Naomi berubah pikiran dan menyuruh kedua menantunya kembali ke negeri asalnya dan kepada tuhan mereka. Orpa kembali ke kaumnya, sedangkan Rut bersikeras untuk tetap tinggal bersama Naomi. Dalam Rut 1:16-17, kalimat yang disebutkan oleh Rut seakan-akan seperti sumpah yang diucapkan oleh kedua mempelai yang hendak menikah. Jikalau kita membaca seluruh isi Kitab Rut, maka akan didapati bahwa ucapan Rut tidak berhenti hanya sampai kata-kata saja, tetapi dia juga menunjukkan ketaatannya kepada Tuhan melalui Naomi.

Jika dilihat dari perspektif orang ketiga, mungkin sebagian dari kita akan merasa Rut sangat polos dan lugu menolak perintah mertuanya tanpa menego-nego. Perkataan dan tindakan Rut juga seakan-akan seperti orang yang baru bertobat, yang tidak tahu arah, sehingga ikut Naomi yang sudah mengikuti Tuhan lebih dahulu. Tetapi faktanya Rut sudah berada bersama-sama dengan keluarga Naomi selama sepuluhan tahun. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat bagi seseorang dalam pengenalan akan Tuhan. Rut bisa saja memiliki keinginan dia sendiri dan tidak mau mengikuti Naomi. Namun Rut tetap lebih memilih untuk ikut Naomi yang sudah lebih teruji imannya. Di sisi yang lain, Rut juga tidak secara buta mengikuti Naomi ataupun memberhalakannya. Hal ini bisa kita ketahui ketika Rut memproklamasikan bahwa Allah Naomi juga adalah Allahnya. Kecintaan Naomi terhadap Tuhanlah yang membuat Rut bersedia untuk ikut kepada Naomi.

Sewaktu pertama kali bertobat, kita mungkin menjadi seperti Rut yang sangat rendah hati tunduk kepada pendahulu iman kita dan memiliki ketaatan yang sederhana. Kita belajar mati-matian untuk mengenal Tuhan, baik melalui Alkitab, khotbah, dan buku-buku theologi. Kesadaran bahwa kita masih awam membuat kita selalu berusaha untuk berkonsultasi dengan pendeta ataupun orang yang kita anggap lebih senior. Segala pendapat mereka selalu kita dengarkan karena kita percaya bahwa mereka adalah orang yang terlebih dahulu mengenal Tuhan dan kehendak-Nya dibandingkan kita. Namun bagaimana jikalau kita sudah memasuki tahun kedua, ketiga, keempat, atau seterusnya? Apakah kita tetap dapat rendah hati, tunduk, dan memiliki ketaatan yang sederhana seperti saat kita bertobat mula-mula? Akankah kita tetap memandang pendeta dan senior kita sebagai orang yang mencintai Tuhan dan kita harus meneladani mereka seperti Rut mengikuti Naomi? Atau kita malah berpikir bahwa kita juga sudah belajar theologi dan kita memiliki pemikiran sendiri yang sama validnya?

Marilah kita belajar dari Rut, walaupun sudah mengikuti Naomi selama sepuluhan tahun, tetap memiliki kerendahan hati dan mau ikut Naomi. (S)