Saya di Hadapan Sang Guru

Christian Life

Saya di Hadapan Sang Guru

6 November 2017

Jika kita mengaku bahwa kita adalah orang Kristen, maka secara otomatis kita adalah murid Tuhan Yesus. Seorang murid adalah seseorang yang terus menerus belajar dari guru. Oleh sebab itu, memang benar adanya bahwa hidup ini penuh dengan pembelajaran; ketika kita di sekolah kita belajar hal-hal yang bersifat akademik, di rumah kita belajar bersikap yang benar terhadap orang tua, di masyarakat kita belajar bagaimana beretika, dan di gereja kita belajar firman Tuhan. Namun, dalam semua pembelajaran di atas sebenarnya siapa yang menjadi guru kita?

Apa yang dosen ajarkan cenderung kita anggap benar, apa yang media sosial sampaikan cenderung kita anggap bijak, dan apa yang membuat kita merasa nyaman kita anggap itu hal yang pasti benar. Namun, sungguh mengherankan karena kita lebih sering bersikap skeptis ketika firman Tuhan disampaikan di mimbar gereja, bukan? “Ah, maksud firman Tuhan ini seharusnya gak kayak begini juga deh, lebay ah.”

Sebenarnya siapa sih yang menjadi guru kita? Siapa sih yang layak menentukan benar atau salah? Tuhan atau diri kita? Kalau kita mau jujur, sebenarnya kita yang menjadi guru atas pribadi kita sendiri. Oleh sebab itu, sering kali kita jugalah yang menjadi penentu kebenaran karena kita memposisikan diri kita di bawah otoritas diri kita sendiri. Ketika kita yang mengajar diri kita sendiri, kita selamanya akan menjadi seorang murid yang bodoh. Seorang murid harusnya menempatkan dirinya di bawah otoritas Sang Guru Agung, tetapi kita, baik secara sadar maupun tidak sadar telah menggeser posisi Guru kita. Kita ingin menjadikan diri kita guru dan murid bagi diri kita sekaligus, absurd bukan?

Sebagai seorang murid, pembelajaran kita tentang hidup hanya dapat berkembang ketika kita menempatkan Tuhan di tempat yang selayaknya Dia berada. Tentu hal ini memerlukan kerendahan hati untuk mau ditegur dan dididik. Dapatkah kita mengubah hati kita sendiri? Tidak bisa, karena hanya Tuhan yang mampu mengubah hati kita yang sombong ini. Mari kita tidak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan supaya kita boleh menjadi seorang murid yang rendah hati, yang terus menerus mau belajar dari Guru kita. (IT)