Sedih

Devotion

Sedih

16 November 2020

Bacaan: Lukas 18:22-23
Saya yakin kita pasti pernah mengalami kesedihan di dalam kehidupan ini. Saat kita masih kanak-kanak, kita sedih karena lama ditinggal orang tua keluar rumah. Saat beranjak remaja, kita sedih karena dihina teman. Saat pemuda, kita sedih karena tidak lulus ujian atau karena patah hati. Saat dewasa, kita sedih karena tidak mendapat pekerjaan atau ditinggal orang yang kita kasihi, dan lain sebagainya. Kita bisa menyebutkan banyak kesedihan yang kita pernah alami. Atau mungkin saja saat kita membaca artikel ini, kita sedang mengalami kesedihan.
Pertanyaannya adalah mengapa kita sedih? Mengapa ketika orang lain tidak lulus, kita tidak bersedih? Mengapa teman kita patah hati, kita seolah ikut bersedih dengan dia tetapi sesungguhnya kita tidak bisa merasakan kesedihan dia? Sering kali kita bersedih karena menyangkut hal-hal yang terkait dengan diri kita, keegoisan kita. Di dalam keberdosaan, kesedihan kita adalah kesedihan yang egois. Kesedihan yang tidak membawa kita kepada pertobatan dan pertumbuhan.
Di dalam Alkitab, banyak cerita yang mengisahkan tentang kesedihan. Ada satu kisah tentang seorang muda, pemimpin kaya yang menganggap dirinya sudah menaati seluruh hukum Taurat sehingga dengan bangga ia datang kepada Tuhan Yesus untuk bertanya perbuatan baik apalagi yang perlu ia lakukan supaya ia memperoleh hidup yang kekal. Tuhan Yesus lalu menyuruhnya untuk menjual seluruh hartanya dan dibagi-bagikan kepada orang miskin, lalu mengikut Yesus.  Mendengar perintah tersebut, orang muda itu lalu pergi dengan sedihnya, sebab banyak hartanya. Ini adalah suatu contoh kesedihan yang tidak membawa kepada pertobatan dan pertumbuhan. Ia sedih karena hartanya yang sementara, yang tidak mungkin ia bawa menghadap Tuhan. Anugerah untuk bisa mengikut Tuhan sehingga memperoleh hidup kekal malah dibuangnya. Hati dia lebih tertambat kepada kesementaraan yang membawa kebutaan rohani daripada kepada Tuhan Yesus yang membawa kepada kehidupan kekal.
Menjadi perenungan kita hari ini, jikalau Allah menginginkan kita untuk melepaskan ikatan hati kita dan mengarahkan hati kita sepenuhnya kepada Kristus, apakah kita merasa sedih atau bersyukur? [DS]