Siapa Takut Siapa?

Devotion

Siapa Takut Siapa?

6 January 2020

Bacaan: Mazmur 34:7

Setiap orang Kristen mengerti bahwa Allah yang disembah adalah Allah yang Mahakuasa dan lebih besar dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Namun, tidak banyak orang Kristen yang sungguh-sungguh memercayai pengertian tersebut, termasuk saya dan Anda. Kita sangat mudah percaya akan kebesaran Allah jika kita sedang berada dalam lingkungan gereja atau berada di antara orang-orang Kristen lainnya. Sedangkan jika kita sedang berada di luar lingkungan tersebut, banyak hal yang kita anggap lebih besar dari Allah. Hal-hal tersebut yang sering membuat kita takut dan menundukkan diri terhadapnya, bahkan membuat kita melupakan segala kuasa yang pernah Allah nyatakan dalam hidup kita.

Manusia lainnya adalah salah satu yang menjadi ketakutan kita. Tidak jarang kita lebih takut kepada manusia daripada Allah. Setiap hari kita berelasi dengan banyak orang dan menghadapi banyak hal. Di dalam relasi tersebut, kita sering tidak sadar bahwa kita sedang menundukkan diri kepada orang lain. Kita sangat menginginkan penerimaan dari orang lain sehingga kita mau berbuat “apa saja” agar orang lain menerima keberadaan kita. Banyak hal yang kita lakukan untuk menyenangkan manusia bukan menyenangkan Allah. Sehingga tidak jarang dalam relasi kita dengan orang lain, kita lebih mengutamakan perasaan orang lain daripada menyatakan kebenaran yang Allah ajarkan.

Takut kepada manusia menjadi masalah terbesar bagi kita. Banyak pekerjaan Tuhan yang tidak kita lakukan karena takut akan manusia, misalnya saja dalam penginjilan. Kita sering kali gagal melakukan penginjilan kepada orang lain karena takut akan terhadap banyak kemungkinan. Kita takut ditolak, kita takut jika orang lain berpandangan buruk kepada kita, kita takut kehilangan teman kita, kita takut dijauhi oleh orang lain, dan masih banyak ketakutan lainnya. Pemikiran seperti itulah yang menunjukkan bahwa kita tidak percaya akan kebesaran Allah dan kita lebih takut akan manusia. Perasaan takut itu bersumber dari keegoisan diri. Kita hanya ingin mengamankan diri kita dan tidak ingin mengambil risiko.

Tuhan Yesus sudah memberikan teladan bagi kita tentang bagaimana hidup yang takut akan Tuhan, bukan takut manusia. Selama menjalani hidup sebagai manusia, Ia tidak pernah mengutamakan perasaan manusia, Ia selalu menyatakan kebenaran meskipun itu sering menyinggung perasaan orang lain. Yesus taat meskipun harus menanggung risiko dibenci banyak orang bahkan risiko menerima hukuman mati. Ia melakukan hal tersebut karena Ia sadar bahwa kedatangan-Nya di dunia adalah untuk menggenapkan kehendak Bapa-Nya yang di sorga dan Ia memang harus mati di kayu salib. Ia hanya takut kepada Allah Bapa bukan kepada manusia, penolakan manusia tidak menghalangi-Nya untuk menyatakan kebenaran. Hati seperti inilah yang seharusnya kita miliki: hati yang sungguh percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahabesar. Marilah kita setia dalam menyatakan kebenaran-Nya dan mengerjakan kehendak-Nya tanpa takut kepada manusia dan tidak mementingkan diri sendiri. (RP)