Strangeness

Devotion

Strangeness

3 October 2019

Pernahkah kita berada di tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya? Saat kita kunjungi tempat itu, atau bahkan menetap di tempat tersebut, bukankah ada suatu perasaan yang asing? Mungkin bukan hanya soal lokasi, tetapi semuanya berbeda. Waktu yang terasa berbeda, bisa jadi matahari terbit dan terbenam pada waktu yang berbeda. Mata uang yang berbeda. Alat ukur yang berbeda. Peraturan yang berbeda. Setiap saat berada di dalam maupun di luar tempat tinggal kita terasa asing. Ya, asing di dalam lokasi tersebut.

Seperti itulah seharusnya seorang Kristen berada di dunia ini. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita bukan sedang berada di dalam rumah. Di planet bumi ini, kita hanyalah seorang pendatang.  Mudah untuk kita menganggap bahwa dunia ini adalah bagian dari diri kita. Begitu banyak waktu, daya, pikiran yang kita berikan untuk dunia, paling tidak untuk sekeliling kita.

Bukan! Tentu tidak salah untuk berbuat yang terbaik di dalam dunia ini. Kita semua dipanggil untuk mengerjakan yang terbaik di tempat kita ditempatkan (Ef. 5:16). Tetapi perlu kita ingat, kita membaktikan diri kita dengan fokus tertinggi adalah untuk memuliakan Allah (1Kor. 10:31).  Dengan mengingat bahwa seorang Kristen adalah orang asing di dalam dunia ini, seharusnya telah memberikan kita cara berpikir yang benar dalam menghadapi dunia. Saat dunia menganiaya kita, karena kebenaran yang kita bawa, ingatlah, bahwa dunia ini hanyalah tempat sementara. Kita hanyalah musafir yang hanya transit dan akan segera berangkat pulang. Saat dunia begitu membuai kita, membuat kita nyaman, kita seharusnya juga ingat bahwa kita bukan sama dengan dunia ini, tetapi kita harus seperti firman Tuhan telah wahyukan bagi kita (Rm. 12:1-2). 

Apa pun yang kita hadapi di dunia ini, fokus tertinggi kita hanyalah Kristus. Dia adalah peta dan teladan Allah yang sejati. Maka Dialah model dan teladan bagaimana kita hidup di dunia ini. Maka untuk dapat menjalani hidup dengan benar di dalam dunia yang begitu asing bagi kita, alangkah bijak jika kita melihat kepada teladan tertinggi kita, Kristus Yesus. (TH)