Tangisan Penyesalan

Christian Life

Tangisan Penyesalan

4 January 2021

Di dalam Alkitab, kita mengenal dua tokoh yang menangis karena menyesal akan apa yang telah diperbuatnya terhadap guru-Nya; yaitu Yudas dan Simon Petrus. Yudas menangis di dalam penyesalannya karena telah menjual Yesus, gurunya, dengan tiga puluh keping perak dan menyaksikan betapa gurunya disiksa sedemikian rupa, membuatnya ia tidak tahan melihatnya (Mat. 27:3-5). Sedangkan Simon Petrus menangis di dalam penyesalannya karena telah menyangkal Yesus, gurunya, tiga kali, padahal sebelumnya Tuhan Yesus telah memperingatkan dia (Mat. 26:69-75).

Keduanya sama-sama menangis di dalam penyesalannya, namun berakhir di ujung yang berbeda. Yudas memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri karena tidak berhasil menarik kembali “deal jual-beli” gurunya dari para imam-mam kepala dan tua-tua. Ia memakai jalannya sendiri untuk mengakhiri hidupnya. Namun sebaliknya yang terjadi dengan Simon Petrus. Simon Petrus menangis tersedu-sedu ketika ia menyadari bahwa ia telah menyangkal gurunya tiga kali. Namun ia tidak mengakhiri hidupnya dengan caranya sendiri. Kita mengetahuinya dari Alkitab, Simon Petrus kemudian sadar akan keberdosaannya, lalu bertobat. Ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk dipakai oleh Tuhan. Menurut tradisi oral, Simon yang kemudian diberi nama Petrus (yang berarti batu karang) oleh gurunya, memilih untuk dihukum dengan disalibkan terbalik; kepala di bawah dan kaki di atas. Petrus mengatakan bahwa ia tidak layak untuk disalibkan seperti gurunya. Dua tangisan penyesalan yang berbeda. Yang satu tidak membawa kepada pertobatan, tetapi yang satunya lagi membawa kepada pertobatan.

Kita pasti pernah menangis karena menyesal akan suatu kejadian yang kita alami. Yang menjadi pertanyaannya adalah: apakah tangisan penyesalan itu membawa kita kepada pertobatan atau justru membuat hidup kita makin terpuruk? Kita mungkin mengatakan kita tidak seperti Yudas yang menyesal dan kemudian membunuh diri. Tetapi sesungguhnya ketika kita menyesal namun hanya berhenti pada penyesalan tanpa membawa kita kepada pertobatan, sesungguhnya penyesalan kita tidak ada bedanya seperti penyesalan Yudas, yang hanya membawa kita kepada penghancuran diri sendiri.

Adakah hari ini kita sedang menangis di dalam penyesalan kita? Mari kita tidak terus terbenam di dalam penyesalan tersebut tetapi bertobat, dan bangkit untuk hidup bagi Kristus; sama seperti Petrus yang kemudian bangkit dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk dipakai oleh Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihinya. (DS)