The Man of Great Awakening

Jonathan Edwards (1703-1758)

The Man of Great Awakening

10 August 2015

Kebangunan Rohani Besar di Amerika Serikat di pertengahan abad ke-18 tidak lepas dari peranan Jonathan Edwards. Jonathan Edwards adalah seorang theolog, pendeta, dan misionaris berkebangsaan Amerika yang dilahirkan pada tanggal 5 Oktober 1703, di East Windsor, Connecticut. Edwards lahir dari pasangan Timothy Edwards dan Esther Stoddard dan merupakan anak laki-laki satu-satunya dari sebelas bersaudara. Kakeknya, Solomon Stoddard, merupakan seorang pendeta yang telah melayani selama enam puluh tahun dalam sebuah gereja di Northampton, Massachusetts. Begitu pula dengan ayahnya, Timothy Edwards yang merupakan merupakan seorang pendeta dan pengajar di East Windsor. Tidak hanya dididik dalam iman Kristen yang ketat, Edwards muda juga merupakan seorang pelajar yang memiliki prestasi akademik yang mengagumkan. Jonathan Edwards berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya, dan masuk ke Universitas Yale di New Haven pada tahun 1718 pada usia 13 tahun.

Dibesarkan di dalam suasana kesalehan, afeksi, dan pembelajaran kaum puritan tidak semerta-merta menjadikan Jonathan Edwards seorang Kristen yang langsung memiliki iman Kristen yang sejati. Di dalam tulisannya, Edwards mengaku bahwa sejak masa kecilnya, pikirannya dipenuhi dengan ‘perlawanan’ terhadap doktrin predestinasi – misalnya, bahwa Allah dengan berdaulat memilih beberapa orang untuk diselamatkan tetapi menolak orang-orang lainnya sehingga mereka masuk ke dalam penyiksaan yang kekal. “Hal ini dulunya muncul sebagai doktrin yang mengerikan bagiku.” Di dalam masa kegelapan dan perlawanan masa mudanya, belas kasihan Tuhan datang kepadanya saat merenungkan 1 Timotius 1:17, “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.” Di dalam tulisannya, Edwards menjelaskan akan pertobatan yang dialaminya saat itu. “Datang ke dalam jiwaku, dan seolah-olah disebarkan melalui itu, sebuah rasa kemuliaan Sang Ilahi; sebuah perasaan yang baru, yang sangat berbeda dari apa pun yang pernah kurasakan sebelumnya... Aku terus mengucapkannya seperti sedang menyanyikan ayat itu kepada diriku sendiri dan berdoa kepada Tuhan agar aku dapat menikmati-Nya… Mulai saat itu aku mulai memiliki pemikiran dan gambaran yang berbeda tentang Kristus, dan karya penebusan, dan keselamatan yang dikerjakan-Nya dengan cara yang mulia. Dan pikiranku ditarik begitu kuat untuk menghabiskan waktuku dalam membaca dan bermeditasi tentang Kristus, dalam keindahan diri-Nya dan cara keselamatan yang indah melalui anugerah di dalam diri-Nya.” Jonathan Edwards bertobat di usia remajanya yang ke-17 saat hendak menyelesaikan kuliahnya di Yale.

Jonathan Edwards menyelesaikan pendidikan awalnya di Yale pada tahun 1720, dan kemudian melanjutkan menetap di sana sebagai mahasiswa theologi sampai pada tahun 1722. Pelayanan resmi Jonathan Edwards dimulai setelahnya, meski belum memasuki usia 19 tahun, dengan berkhotbah di sebuah gereja presbiterian Inggris di kota New York selama 8 bulan. Pada tahun 1723, Edwards kembali ke Connecticut untuk melayani sebuah gereja di sana, dan pada tahun 1724, Edwards memutuskan untuk menjadi pengajar di Yale sampai pada tahun 1726.

Saat berada di New Haven, Edwards menjalin persahabatan dengan Sarah Pierrepont, yang berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 1727, saat Edwards memutuskan untuk menetap di Northampton sebagai asisten pendeta, mendampingi kakeknya. Pernikahan kedua pasangan ini dikaruniai 11 orang anak yang di kemudian hari membawa pengaruh yang besar dalam sejarah New England. Jonathan Edwards kemudian diangkat menjadi pendeta senior di Northampton mengantikan kakeknya, Solomon, yang meninggal pada tahun 1729.

Jonathan Edwards merupakan tokoh penting dalam peristiwa kebangunan rohani besar (Great Awakening) di Amerika sekitar tahun 1730-1741. Kebangunan rohani yang pertama terjadi pada tahun 1734-1735. Tema mengenai dosa dan keselamatan terus dibawa di dalam seri khotbah Edwards yang berjudul “Keselamatan melalui iman” (Justification by faith) pada tahun 1734, yang menghasilkan kebangunan rohani yang signifikan di Northampton. Dimulai dari kebaktian doa pemuda di gereja Edwards sendiri, semangat kebangunan ini menyebar ke kota-kota sekitarnya dan menjadi satu wadah untuk kebangunan rohani yang besar yang kemudian terjadi beberapa tahun setelahnya.

Kebangunan rohani terus terjadi di gereja-gereja di Amerika setelahnya. Pada tanggal 8 Juli 1741, Jonathan Edwards diundang untuk berkhotbah di gereja Enfield, Connecticut, dan membawakan sebuah khotbah yang paling terkenal dalam sejarah Amerika, yakni “Orang berdosa di tangan Allah yang murka” (Sinners in the Hands of Angry God). Respons jemaat Enfield terhadap khotbah yang disampaikan sungguh menakjubkan! Sebelum khotbah itu selesai, orang-orang menangis, meratap, dan meneriakkan, “Apakah yang harus saya perbuat, supaya saya selamat?” Edwards berusaha untuk menenangkan tangisan dan ratapan yang begitu hebatnya, namun kegemparan itu semakin menjadi sehingga Edwards harus berhenti berkhotbah.

Masa setelah kebangunan rohani saat itu menjadi masa-masa di mana Edwards bekerja keras untuk mengoreksi pemikiran yang salah tentang tanda pertobatan yang sejati. Di sisi lainnya, Ia berjuang untuk mempertahankan keabsahan pekerjaan Roh Kudus dalam kebangunan rohani tersebut yang diserang oleh para pemimpin gereja yang bertentangan dengannya. Pada September 1741, Edwards menjelaskan mengenai kebangunan rohani yang terjadi dalam khotbahnya yang berjudul “Tanda Pekerjaan Roh Kudus” (The Distinguish Marks of the Work of the Spirit of God). Dia juga menyatakan dengan tegas bahwa ibadah-ibadah gereja non-tradisional, gerakan tubuh yang tidak biasanya, dan hal-yang yang terkesan saleh bukanlah suatu tanda keselamatan yang pasti. Kebangunan yang sejati harus dibuktikan dengan kesalehan yang sejati, yang secara esensi berupa penyembahan terhadap Yesus sebagai Juru Selamat, penghormatan dan interpretasi yang sehat terhadap Alkitab. Pada tahun 1746, Jonathan Edwards memublikasikan tulisannya yang berjudul “Kasih Sayang yang Religius” (Religious Affections) yang membedakan antara pengalaman rohani yang palsu dan yang sejati.

Tulisan Jonathan Edwards pada tahun 1749 tentang David Brainerd, mungkin merupakan tulisannya yang paling menggerakkan hati pembacanya. David Brainerd merupakan seorang misionaris yang melayani suku Indian, dan meninggal karena tuberculosis (TBC) yang menyerangnya di ladang misi. Hidup seorang David Brainerd merupakan contoh kesalehan sejati, dan merupakan teladan dan pengaruh yang besar bagi para misionaris. Daftar misionaris yang bersaksi tentang inspirasi dari kehidupan Brainerd melalui tulisan Jonathan Edwards antara lain: Francis Asbury, Thomas Coke, William Carey, Henry Martyn, Robert Morrison, Samuel Mills, Friedrick Schwartz, Robert M’Chayne, David Livingstone, Andrew Murray, dan Jim Eliot.

Pada tahun 1750, Jonathan Edwards dipecat dari gerejanya di Northampton karena menentang praktik perjamuan kudus yang salah, yang telah berlangsung sejak masa penggembalaan kakeknya, Solomon. Dari Northampton, Edwards berangkat menuju pos misi yang terletak di Stockbridge, dan melayani sebagai misionaris bagi suku Mohicans dan Mohawks sejak tahun 1751-1757. Pada Januari 1758, Jonathan Edwards menjadi Presiden di Universitas Princeton. Dua bulan kemudian dia meninggal akibat komplikasi yang disebabkan oleh vaksin cacar.

Disadur dari Sekilas KIN Remaja 2015 Edisi 3