The Voice That Woke The World

George Whitefield (1714 - 1770)

The Voice That Woke The World

10 August 2015

“I love those that thunder out the word. The Christian world is in a deep sleep. Nothing but a loud voice can awaken them out of it.” – George Whitefield.

Tidak diragukan lagi, George Whitefield merupakan salah satu tokoh penginjilan terbesar pada abad ke-18 yang pernah berkhotbah kepada kurang lebih 650.000 orang dalam satu bulan. Pada masa di mana menyeberangi Samudera Atlantik merupakan perjalanan yang paling berbahaya dan bahkan tak jarang mematikan itu, Whitefield melakukan perjalanan misi sebanyak tujuh kali semasa hidupnya menyeberangi Samudera Atlantik untuk berkhotbah dan mengadakan rangkaian Kebaktian Kebangunan Rohani. Whitefield merupakan salah satu figur kunci di dalam Kebangunan Rohani Besar yang terjadi pada abad ke-18, kebangunan spiritual Kristen yang menyapu wilayah Inggris, Skotlandia, Wales, sebagian Irlandia, Belanda, Jerman, Perancis, terutama seluruh koloni Inggris di wilayah Amerika Utara. Banyak ahli sejarah menyatakan bahwa natur dan luasnya pengaruh daripada kebangunan rohani pada abad tersebut memiliki besaran yang serupa dengan zaman Gereja mula-mula dan abad Reformasi.

Kondisi Inggris pada awal tahun 1700-an mengalami keterpurukan yang buruk, baik dari sisi moral masyarakat maupun spiritualitas keagamaan. Perzinahan, perselingkuhan, perjudian, pembicaraan kotor, kemabukan, dan sebagainya sudah menjadi bagian hidup sehari-hari yang lumrah di dalam masyarakat. Hal-hal tesebut hanyalah sebuah bagian kecil dari gaya hidup orang-orang pada masa itu, mulai dari rakyat jelata hingga kalangan ningrat.

Tanpa pengecualian, gereja-gereja yang sudah lama berdiri sedang mati di dalam formalitas yang ada. Banyak mimbar yang sudah senyap dan pelitanya sudah gelap karena hanya sebulan sekali mimbar bersuara. Jikalaupun ada khotbah yang disampaikan, khotbahkhotbah tersebut tidak lebih jauh daripada pesan moral secara umum dan sama sekali tidak ada gairah untuk membangkitkan jiwa setiap orang. Pada akhirnya, baik yang menyampaikan maupun yang mendengarkan samasama dimatikan di dalam kebaktian. Mayoritas masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan keagamaan yang sesungguhnya, dan para rohaniwan juga tenggelam di dalam kehidupan dunia yang berkedok agama.

Sangat sulit membayangkan zaman di mana situasi keamanan yang tidak kondusif untuk memberitakan firman, sekaligus kondisi para pendengar yang tidak reseptif lagi karena sudah terbiasa dengan label-label kekristenan. Namun secara tiba-tiba di Inggris Tuhan memunculkan seorang pengkhotbah muda, yaitu George Whitefield. Whitefield berkhotbah di mimbar kota London pada usia 22 tahun dengan sebuah kekuatan dan daya tarik yang luar biasa sehingga, pada akhirnya, gereja-gereja tidak dapat lagi menahan gelombang masyarakat yang datang untuk mendengarkan Whitefield.

Sebelumnya, si bungsu dari tujuh bersaudara ini lahir di dalam sebuah penginapan di kota Gloucester, Inggris pada bulan Desember 1714. Putra keenam dari Thomas dan Elizabeth Whitefield ini harus kehilangan ayahnya tidak lama setelah ia lahir. Ibunya sempat menikah kembali, tetapi berujung pada perceraian. George muda menemukan ketertarikan yang besar terhadap dunia teater dan drama. Tetapi kelak Ia menolak dunia tersebut, Ia menganggapnya pesaing yang palsu bagi gereja. Menurutnya, orang-orang seharusnya lebih ditarik kepada gereja, bukan panggung hiburan.

Karena melihat kondisi perekonomian keluarga yang sulit, pada usia 15 tahun Whitefield membujuk ibunya supaya ia boleh membantu ibunya dan berhenti mengejar jenjang pendidikan. Setelah seorang rekan membujuk Elizabeth agar menyuruh Whitefield melanjutkan pendidikannya, pada 1732 Whitefield mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan pada jenjang universitas di Pembroke College, Oxford.

Bekerja sebagai pembantu bagi muridmurid yang lebih mampu sebagai ganti dari biaya sekolah di Oxford, di sinilah Whitefield pertama kali bertemu dengan Wesley bersaudara. Ia bergabung dengan sebuah klub persekutuan mahasiswa yang didirikan oleh Wesley bersaudara di dalam kampus. Di dalam salah satu catatan jurnal pribadinya, George muda mengisahkan bagaimana kehidupan dan lingkungan masa mudanya di kampus: “Saya seorang yang garang, yang membenci nasihat, dan yang selalu dengan sengaja lari dari semua kemungkinan di mana saya harus menerimanya.” “Saya sering menggunakan uang yang diberikan oleh ibu saya dengan tidak pantas. Untuk bersenang-senang, berjudi kartu, dan terutama percintaan.”

George mengungkapkan bagaimana gambaran lingkungan kawan-kawan sepermainannya ketika muda, “Saya sangat terbiasa bergaul dengan sekelompok pemuda yang sensual, tidak terurus, dan tidak peduli Tuhan, yang jikalau bukan karena Tuhan yang melalui anugerah-Nya, tanpa jasa dan yang cuma-cuma telah mengantarkan saya keluar dari tangan-tangan mereka, saya sudah dapat dipastikan berada di kursi para pencemooh saat ini! Dan menjadikan dosa sebagai kelakar sehari-hari.” Whitefield melanjutkan, “Dengan terus berada bersama-sama mereka, pikiran saya tentang agama malah semakin hari makin serupa dengan mereka. Saya pergi ke dalam kebaktian yang saya anggap hanya sebagai selingan, lalu pergi. Saya menikmati pembicaraan mereka yang cabul. Saya mulai berpikir seperti mereka, dan mempertanyakan kenapa Tuhan memberikan suatu gairah birahi tanpa mengizinkan kita untuk memuaskannya? Segera saja saya menjadi orang yang mahir di dalam sekolah iblis! Saya terpengaruh untuk hidup secara amoral, dan segera berada di dalam jalan menuju kebusukan yang sama busuknya seperti mereka.”

Tetapi di tengah semua ini, hati nurani serta kesadarannya membuat ia tidak bahagia; Ia berharap, jikalau mungkin kehidupan rohani yang baik boleh digabung dengan kesenangan dunia yang ada. Tetapi dorongan dari ingatan akan Alkitab yang ia baca setiap hari terus membuat jiwanya gelisah. Whitefield pun mengasingkan diri. Hanya kelompok persekutuan mahasiswa yang dipimpin oleh John Wesley-lah yang menarik hati dan jiwanya. Kelompok ini melatih diri untuk mengikuti serangkaian disiplin yang dibentuk di dalam metode-metode tertentu, sehingga kelompok ini biasa dipanggil sebagai kelompok Metodis. Kelompok ini biasa diperbincangkan, dan lebih sering dicemooh karena mereka menetapkan hati mereka untuk hidup menyangkal diri dan sepenuhnya mendedikasikan diri bagi kemuliaan Tuhan. Hal ini tercermin melalui gaya hidup mereka yang sederhana dan tidak meniru gaya hidup pemuda pada umumnya.

Whitefield sering melihat kelompok ini dicemooh di depan publik, terutama John dan Charles bersaudara. Dengan penuh semangat Whitefield selalu membela mereka ketika Ia mendapati Wesley bersaudara didamprat. Ia menetapkan hati untuk menjadikan kakak-beradik ini sebagai teladan dan panutan. Ditarik oleh rasa persaudaraan yang kuat, Whitefield dengan sangat intens berkeinginan untuk bergaul karib dengan mereka, tetapi sifat inferiornya yang sangat kental sering menghalangi dia untuk berkarib lebih jauh. Charles yang sering melihat George berjalan sendiri suatu pagi mengajaknya untuk makan bersama. Tidak lama persahabatan dan kehidupan rohani kelompok yang sangat kuat mulai terbangun.

Pada masa ini kesehatan Whitefield sangat dipengaruhi oleh pendisiplinan diri yang ia buat. Tidak jarang hidupnya berada di dalam bahaya kematian oleh karena kesehatan yang menurun. “Saya mencari keselamatan melalui usaha diri sendiri,” ujar Whitefield.

“Kenapa jiwa saya tidak mendapatkan ketenangan? Kenapa saya tidak berani memercayakan dan bergembira atas pengampunan yang Tuhan berikan?” Pada usianya yang keduapuluh, George muda berdoa di dalam kamarnya, “Aku haus, aku haus akan iman terhadap pengampunan Tuhan yang penuh kasih. Tuhan, saya percaya; tolong saya yang tidak percaya ini.” Jaminan keselamatan melalui iman dan hidup yang dibentuk di dalam disiplin yang ketat inilah yang menjadi bekal besar bagi hidup dan pelayanan George muda hingga ia tutup usia.

650.000 orang yang mendengarkan khotbahnya selama satu bulan hanyalah sebagian kecil dari jutaan orang yang pernah mendengarkan Injil melalui mulutnya, yang pada masa itu tidak ada alat pengeras suara seperti saat ini. Lebih dari 18.000 kebaktian yang dipimpinnya selama 36 tahun melayani Tuhan, dan diperkirakan memiliki 10.000.000 pendengar selama berkeliling di wilayah Britania raya, Amerika Utara, serta sebagian wilayah Eropa Utara. Dipukuli oleh gerombolan perusuh, tiga kali mendapat surat ancaman pembunuhan, satu kali dilempari batu hingga hampir tewas tidak mengurungkan niatnya untuk berkhotbah 40-50 jam dalam seminggu. Tercatat hanya 13 kali ia menempuh perjalanan panjang yang berbahaya mengarungi Samudera Atlantik, karena untuk perjalanan yang ke-14 ia tidak lagi kembali ke Inggris. Perjalanan ke- 14 menjadi sebuah perjalanan di mana Whitefield mengarungi kematian dan kembali kepada Tuhan.

George Whitefield meninggal pada 30 September 1770 di dalam pastoran Gereja Old South Presbyterian, Newburyport, Massachusetts. Seorang Calvinis ini dimakamkan di dalam pemakaman gereja, tepat di bawah mimbar gereja, sesuai dengan permintaannya. George Whitefield, Suara yang Membangunkan Dunia.

Suaranya tidak pernah mati. Melalui hidup, dan terutama melalui perjalanan iman yang berani, Whitefield terus berteriak untuk membangunkan setiap jiwa yang rohaninya mulai mati. Hingga hari ini, Suara yang Membangunkan Dunia masih boleh terus diperdengarkan, kepada banyak generasi baru, kepada pemuda di KIN 2015, kepada kita semua untuk dibangunkan Tuhan sekali lagi.

“Mere heathen morality, and not Jesus Christ is preached in most of our churches.” – George Whitefield.

“I have lived to see that fatal crisis, when religion hath lost its hold on the minds of the people” – George Whitefield.

Disadur dari Sekilas KIN Pemuda 2015 Edisi 4