Tiang Garam

Christian Life

Tiang Garam

19 July 2021

Bacaan: Kej. 19: 1-29

Kisah tentang tiang garam sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kisah ini menceritakan bagaimana istri Lot dihukum Allah menjadi tiang garam. Dikisahkan bahwa Allah datang melalui dua malaikat kepada Lot yang berdiam di Sodom dan Gomora untuk menyelamatkan Lot dan keluarganya dari hukuman Allah kepada Sodom dan Gomora. Kota ini dihukum Allah oleh karena dosa-dosanya yang sangat membuat Allah murka. Singkat cerita malaikat harus menarik Lot diikuti kedua anak perempuannya agar lari menyelamatkan diri. Namun istri Lot, karena berat hatinya meninggalkan Sodom dan Gomora, menoleh ke belakang; ke arah Sodom dan Gomora. Allah lalu menghukum istri Lot menjadi tiang garam.

Dengan kacamata kita hari ini melihat, tentu saja kita akan menganggap Allah kejam. Kenapa “cuma” menoleh ke belakang saja harus dihukum menjadi tiang garam. Kisah manusia menjadi tiang garam hanya terjadi satu kali dalam sejarah dunia sejak manusia diciptakan. Kisah ini hingga hari ini tidak pernah terulang lagi. Allah memakainya untuk mengajarkan kepada Lot dan kedua anak perempuannya saat itu, juga mengajarkan kepada pembaca mula-mula dari Kitab Kejadian, serta kita hari ini yang membacanya, bahwa dalam mengikuti Allah, pandangan kita harus terarah ke depan, mengikuti pimpinan Tuhan, dan tidak lagi mengingat-ingat kehidupan lama dalam lumpur dosa. Istri Lot menoleh ke belakang, ke arah Sodom dan Gomora, menandakan hatinya masih terpikat kepada kehidupan Sodom dan Gomora yang penuh lumpur dosa. Allah tidak menginginkan umat-Nya mengikuti-Nya tidak dengan sepenuh hati, di mana hatinya masih terpikat kepada kehidupan lamanya yang penuh dosa.

Seperti malaikat datang membebaskan Lot dari hukuman Allah, demikian juga kita hari ini dibebaskan oleh Yesus Kristus dari hukuman dosa melalui kematian-Nya di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya. Anugerah keselamatan yang Tuhan berikan harusnya membawa kita untuk mengarahkan pandangan kita ke depan mengikuti arahan pimpinan Tuhan menuju kepada kehidupan kekal. Hati yang sudah diperbarui oleh anugerah keselamatan tersebut harusnya membuat kita tidak lagi tertarik akan kehidupan dunia lama kita dalam dosa.

Mari kita merenungkan kehidupan kita yang sudah memperoleh anugerah keselamatan tersebut. Apakah hati kita masih terpikat pada kehidupan lama kita yang berdosa? (DS)