Topeng

Christian Life

Topeng

30 October 2017

V for Vendetta, sebuah film yang menceritakan perjuangan seseorang melawan pemerintahan yang otoriter di Inggris. Kita tidak akan membahas isi, pemikiran, ataupun perjuangan dari film tersebut, melainkan kita akan melihat kepada sang tokoh “V”. V, merupakan satu karakter yang cukup menarik perhatian kita. Seorang yang memakai topeng Guy Fawkes (yang selalu tersenyum) dari awal hingga akhir cerita. Kita tidak mengetahui siapa orang tersebut, dari mana asal usulnya, bahkan kita juga tidak mengetahui bagaimana ekspresinya ketika dia melakukan setiap aksinya, selain dari topengnya yang tersenyum itu. Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen pada masa kini?

Kita sebagai orang Kristen, bukankah sering kali memakai topeng seperti V. Kita bertopengkan kekristenan, menjalankan kehidupan kerohanian yang terlihat cukup baik di luarnya, tetapi di dalam hati kita yang terdalam kita menghidupi satu kehidupan keberdosaan yang tidak jauh berbeda dengan orang yang tidak percaya. Kita mungkin keberatan dengan pernyataan ini, tetapi itulah kenyataan yang harus diakui. Kita dapat menyebutkan beberapa contohnya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Sebagai orang Kristen, kita mengetahui bahwa kita harus mengasihi sesama, bahkan kita diajarkan untuk mengasihi musuh kita. Tetapi ketika seseorang yang kita benci datang kepada kita, apa yang akan kita lakukan terhadapnya. Mungkin kita dapat tersenyum kepadanya, namun di dalam hati kita ada satu kebencian, kekesalan, kemarahan kepadanya. Sebisa mungkin kita menjauh dari padanya, tidak peduli terhadapnya, menganggapnya sebagai musuh/seteru, dan tidak jarang kita pun menjelek-jelekkan orang tersebut. Kita sulit untuk mengasihi mereka, bahkan berdamai dengannya.

Sebagai orang Kristen, kita setiap minggu ke gereja sambil berkata bahwa kita datang untuk memuji, memuliakan, dan mendengarkan firman Tuhan. Tetapi benarkah kita datang dengan sikap demikian, atau sebenarnya kita datang hanya untuk mencuci hati nurani. Kita datang dengan satu pemikiran bahwa sepanjang hari dari Senin hingga Sabtu kita telah hidup dengan tidak benar, dan sekarang saatnya untuk mengakui dosa-dosa kita. Kita datang karena ingin memuaskan hati dengan lagu-lagu rohani yang kita senangi, di mana ada sekelompok orang yang memainkan musik disertai dengan song leader yang memimpin pujian, lalu kita bernyanyi sambil melompat-lompat kegirangan. Atau kita datang karena khotbah yang dibawakan menarik, memberikan motivasi, pemikiran yang positif, kesuksesan, berkat, maupun mujizat daripada khotbah mengenai kedaulatan Allah, Kristus, dosa, penderitaan, kesulitan, sesuatu yang kita anggap tidak relevan dengan kehidupan hari ini.

Di dalam hal berdoa, mungkin kita dapat berdoa dengan kata-kata yang terdengar rohani, tetapi berapa sering kita mengecek isi dan motivasi dari doa kita? Jangan-jangan di hadapan Tuhan pun kita juga tengah menggunakan topeng. Kita berdoa dengan kata-kata yang sedemikian baik adanya, yang terlihat rohani, tetapi seluruh isi dan motivasi doa kita sebenarnya berisikan petisi-petisi yang bertujuan untuk memuaskan ego, nafsu, dan kemuliaan kita.

Masih banyak lagi contoh dalam kehidupan sehari-hari yang bisa kita sebutkan selain tiga contoh di atas. Hari ini, mari kita sekali lagi bertanya kepada diri kita: sampai kapan kita akan terus menghidupi hidup yang bertopengkan kekristenan seperti demikian. Satu kehidupan yang sebenarnya tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya. Mari kita sekali lagi meminta belas kasihan Tuhan untuk menyelidiki hati kita seperti pemazmur yang mengatakan: selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiranku. Mari kita belajar melepaskan topeng kita dan belajar menghidupi kehidupan kekristenan kita secara benar dari hari ke hari, sehingga seluruh hidup kita boleh menyatakan siapa Allah kita. (S)