True Friendship

Christian Life

True Friendship

13 September 2021

Manusia diciptakan dengan kemampuan dan kebutuhan berelasi. Bukan hanya di dalam konteks membangun keluarga, tetapi juga relasi di dalam membangun sebuah komunitas, bahkan masyarakat. Namun ada sebuah fakta yang perlu kita sadari, yaitu melalui relasi manusia bisa mencapai banyak prestasi di dalam kehidupan mereka, tetapi melalui relasi manusia juga bisa menghancurkan banyak aspek penting di dalam kehidupan.

Di satu sisi Alkitab menyatakan bahwa besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Di sisi yang lain dinyatakan juga bahwa pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik. Maka di dalam relasi, manusia akan saling memengaruhi sesamanya, namun pengaruh seperti apa yang akan kita berikan—pengaruh buruk yang saling menghancurkan, atau pengaruh yang benar sehingga saling menajamkan? Bagaimana kita memperlakukan sesama akan sangat menentukan akan menjadi seperti apa diri kita maupun orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Mari kita sama-sama merenungkan mengenai relasi antarmanusia, secara khusus di dalam relasi pertemanan. Bagaimana seharusnya sebuah relasi? Cara pandang seperti apa yang seharusnya kita miliki di dalam memandang sesama manusia?

Cara pandang pertama yang sering kita jumpai adalah memandang sesama manusia sebagai media atau alat untuk memenuhi kekurangan di dalam dirinya. Di dalam pertemanan seperti ini, manusia dipandang tidak jauh berbeda dengan seekor sapi perah, yang dirawat demi benefit yang akan diperoleh seperti susu, daging, dan sebagainya. Di dalam filsafat Yunani, relasi seperti ini mirip dengan konsep kasih eros, di mana yang lebih rendah mengharapkan sesuatu dari yang lebih tinggi. Tidak heran jikalau pertemanan seperti ini tidak akan berlangsung lama.

Cara pandang yang kedua adalah memandang sesama manusia di dalam posisi yang setara, sehingga pertemanan mereka menjadi relasi yang timbal-balik (give and take). Di dalam pertemanan ini, mungkin kita akan melihat atau merasakan adanya pertemanan yang baik, karena antarkedua belah pihak saling melengkapi satu dengan lainnya. Bahkan pertemanan ini banyak yang bisa bertahan lama karena relasi yang terjalin dengan baik di antara mereka. Di dalam segala situasi mereka bisa saling mendukung dan menolong satu dengan lainnya. Namun, pertemanan ini masih tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Alkitab. Karena pertemanan seperti ini sering kali menjadi pertemanan yang egois dan hanya berlangsung selama ketersalingan dalam kebutuhan dipenuhi.

Cara pandang yang terakhir adalah cara pandang yang diajarkan oleh Alkitab yaitu memandang sesama manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Hal ini berarti relasi pertemanan memiliki suatu tujuan yaitu saling mengasah atau mempertajam satu dengan lainnya di dalam makin menyerupai Tuhan kita, Yesus Kristus. Melalui pertemanan alkitabiah, teguran diberikan untuk membangun kehidupan yang kudus sesuai dengan perintah Allah. Melalui pertemanan ini, dukungan diberikan demi ketaatan kepada panggilan yang diberikan oleh Tuhan. Sehingga arah dan tujuan dari pertemanan ini menjadi jelas, yaitu saling menajamkan satu dengan lainnya demi kehidupan yang makin memuliakan Allah. Melalui kehidupan yang memuliakan Allah inilah, pertemanan ini dapat menjadi berkat bagi sesama. Inilah prinsip dasar di dalam relasi pertemanan yang diajarkan Alkitab. (SL)