We Are Not Who We Think We Are

Christian Life

We Are Not Who We Think We Are

29 April 2019

Manusia pasti selalu mengejar hal-hal yang dianggap berharga bagi dirinya. Kalau kita adalah seorang mahasiswa yang bertanggung jawab, maka kita pasti rela mengerjakan tugas kuliah kita walaupun jam tidur kita harus berkurang. Mengapa? Karena kita menganggap tugas kuliah tersebut penting bagi nilai akhir kita. Kalau kita adalah seorang yang sudah bekerja, maka kita pasti rela disuruh-suruh oleh atasan kita supaya kita tetap boleh mendapatkan gaji, bahkan bonus kalau bisa. Apa pun pekerjaan atau posisi yang ada, kita pasti rela mendedikasikan diri kita untuk hal tersebut karena kita menganggap itu adalah hal yang sangat bernilai bagi kita. Maka, konsep nilai yang kita miliki menentukan apa yang kita kejar dalam hidup ini.

Namun, pertanyaan berikutnya yang lebih penting dan yang harus kita refleksikan bersama adalah: tahukah kita konsep nilai apa yang kita sedang pegang sekarang? Sebagai pemuda Kristen kita pasti diajarkan bahwa Tuhanlah yang terpenting dalam hidup ini. Tentu kita sangat setuju akan hal ini, namun apakah dengan tahu dan setuju hal ini, maka konsep nilai kita langsung berubah? Tidak semudah itu, Ferguso. Pembentukan konsep nilai dalam hidup kita tidak semata-mata bergantung kepada pengetahuan dan persetujuan kita terhadap nilai yang kita percaya (bukan berarti pemahaman mengenai “apa yang benar dan tidak benar” itu tidak penting). Lebih daripada itu: konsep nilai yang kita pegang sesungguhnya menyangkut arah dan komitmen hati kita. Faktanya, kita sering kali tidak memahami sepenuhnya kondisi hati kita. Mengapa? Karena hati manusia itu begitu licik (Yer. 17:9) sampai-sampai kita tertipu oleh diri kita sendiri. Sungguh mengerikan!

Fakta ini hanya membuktikan bahwa kita tidak dapat menolong diri kita sendiri. Tuhan pun tentu tahu akan ketidakmampuan kita. Oleh sebab itu, alangkah berbahagianya ketika Tuhan memakai situasi-situasi yang ada, sehingga kita dapat melihat keadaan hati kita dengan lebih benar. Tuhan terkadang menempatkan kita pada situasi dengan pilihan-pilihan yang sulit di mana kita harus memilih opsi yang ada dengan cepat. Dan sering kali respons atau pilihan kita yang pertama menggambarkan kecenderungan hati kita. Ketika kita sadar bahwa respons pertama kita adalah respons yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, di situ kita baru ngeh bahwa hati kita begitu kotor. Dan pada saat itulah kita sadar “ternyata saya memang manusia yang rusak, yang perlu anugerah Tuhan.” Kita makin sadar bahwa kita perlu bertobat dan memohon anugerah Tuhan untuk memurnikan hati kita. Oleh sebab itu, kiranya situasi sulit yang kita hadapi tidak mengecilkan hati kita terus menerus. Sebaliknya kita harus bersyukur karena melalui hal itu Tuhan bekerja agar kita dapat mengevaluasi kembali konsep nilai apa yang sesungguhnya sedang kita pegang. Betapa baiknya Tuhan karena Dia ingin menguduskan kita, manusia yang cacat ini!

Ketika kita sadar bahwa we are not who we think we are, di situlah kita sadar bahwa kita memerlukan anugerah Tuhan. Kita perlu anugerah yang dapat mengubah hati kita. Kita perlu anugerah yang dapat mengubah konsep nilai kita. Kiranya hidup kita boleh dipenuhi dengan kerendahan hati: berlutut, berdoa, dan terus memohon agar kita diberikan hati yang rela untuk mengejar kebenaran Tuhan at all costs. (IT)