White Queen of Calabar, Nigeria

Mary Slessor

White Queen of Calabar, Nigeria

23 October 2017

Inilah julukan Mary Slessor, seorang misionaris asal Skotlandia yang lahir pada tanggal 2 Desember 1848. Masa kecilnya tidaklah indah, mengingat bagaimana dia sudah harus bekerja sejak berumur 11 tahun. Hal ini disebabkan karena ayahnya merupakan seorang pemabuk yang tidak dapat menyokong keluarganya. Walau demikian, ibunya adalah seorang Kristen yang sangat saleh. Ibunya memiliki hati terhadap perlayanan misi, dan selalu membagi beban pelayanan ini kepada semua orang, termasuk anaknya sendiri. Oleh karena itu, sejak kecil Mary mengerti tentang pekerjaan Tuhan yang ada di banyak tempat di dunia.

Tekad untuk menjadi seorang misionaris muncul ketika Mary berumur 27 tahun. Pada saat itu kematian seorang misionaris di Afrika bernama David Livingstone seakan-akan memanggil lebih banyak orang untuk melayani di Afrika.

Pada tahun 1876 setelah menjalani program pelatihan misi di Edinburgh, Mary tiba di kota Calabar, Nigeria sebagai seorang misionaris. Perjalanannya menjadi seorang misionaris tidaklah mudah. Kesulitan selalu saja ada, dari panasnya matahari di Afrika, sampai serangan seekor kuda nil yang mana dia harus menyelamatkan dirinya dengan melempar sebuah panci ke dalam mulut binatang tersebut. Penyakit demi penyakit pun datang menimpanya termasuk malaria yang pada zaman tersebut sangat mematikan. Dua kali dia harus kembali ke Skotlandia karena kesehatan badannya yang parah. Di saat genting dan melesukan ini, apa yang dapat seorang wanita muda ini dilakukan? Dia hanya berdoa, dan inilah yang menjadi sumber kekuatannya, “Tuhan, tugas itu tidak mungkin bagiku tapi mungkin untuk Engkau. Pimpinlah jalanku dan aku akan mengikutinya… Mengapa aku harus takut? Aku melakukan misi yang agung, aku melayani Raja di atas segala raja.”

Selama pelayanannya di Nigeria, Mary belajar untuk berbicara bahasa Efik, dan membuat persahabatan pribadi di mana pun dia pergi. Badan misi menyatakan bahwa “dia menikmati persahabatan dan kepercayaan dari penduduk lokal, serta memiliki banyak pengaruh kepada mereka.”

Mary terus berfokus pada penginjilan, tetapi selain itu, ia juga menyelesaikan perselisihan, mendorong perdagangan, membangun perubahan sosial, dan memperkenalkan sistem pendidikan. Salah satu perubahan sosial yang paling penting adalah pandangan terhadap bayi kembar. Penduduk Calabar (suku Efik dan Okoyang) memiliki takhayul bahwa salah satu bayi dari dua bayi kembar adalah anak iblis. Oleh karena mereka tidak dapat menentukan bayi mana yang berasal dari iblis, maka biasanya kedua bayi tersebut dibuang ke semak-semak atau dimasukkan ke dalam sebuah pot agar mati. Melihat hal ini, Mary mulai mengadopsi anak-anak yang terlantar di semak-semak. Jumlah anak yang pernah diadopsi Mary mencapai ratusan. Takhayul ini pada hari ini tidak ada lagi karena Mary berhasil melawan tradisi tersebut sepanjang hidupnya di Nigeria.

Di tanah yang dipenuhi oleh kematian baik karena peperangan, pembunuhan anak kembar, maupun penyakit, Mary membawa kabar tentang kehidupan yang tidak pernah didengar sebelumnya. “Di dalam Kristus kita menjadi makhluk baru, hidup-Nya menjadi milik kita … Hidup kekal merupakan kerinduan hati Anda yang paling dalam. Bukankah hati Anda menginginkan hidup kekal yang penuh berkat ini, yang ditawarkan Anak Allah dengan bebas kepadamu?” Inilah berita yang dengan mati-matian dibawakan Mary Slessor kepada penduduk di Nigeria.

Ketenangan di dalam Kristus inilah yang menghantar Mary saat kematian datang menjemputnya pada tahun 1915. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia menyatakan, “Jangan pernah berbicara tentang dinginnya tangan kematian. Ini semua di tangan Kristus. Karena aku yakin, sama dengan rasul Paulus, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Sudahkah kita mencicipi indahnya hidup di dalam Kristus?

LITTLE NOTE: Clydesdale Bank mencetak uang kertas 10 poundsterling yang menggambarkan pelayanan misinya sebagai penghargaan akan pengaruhnya terhadap komunitas di Nigeria. (EYST)