Who Will You Follow to the End?

Christian Life

Who Will You Follow to the End?

1 February 2021

Ketika Abraham dipanggil Tuhan, dia dipanggil untuk meninggalkan salah satu peradaban yang paling awal dan yang paling maju pada masanya. Abraham berasal dari kota Ur, yaitu salah satu kota terpenting di Sumeria. Roda, teknologi pertanian, dan sistem tulis adalah beberapa penemuan yang berasal dari Kebudayaan Sumeria. Abraham juga merupakan orang yang sangat kaya. Alkitab mencatat Abraham memiliki sangat banyak kambing domba, lembu sapi, keledai, budak, dan unta. Kekayaan Abraham begitu banyak hingga tanah yang dia diami tidak cukup ruang untuk menopang seluruh kekayaannya. Pada masa tuanya, Tuhan memanggil Abraham dan berjanji untuk menjadikannya suatu bangsa yang besar, menjadikan namanya masyhur, dan menjadikannya berkat bagi seluruh bangsa (Kej. 12:2). Zaman itu Sumeria adalah salah satu kerajaan yang terbesar yang ada, maka ketika Tuhan mengatakan Dia akan membuat Abraham suatu kerajaan yang besar, reaksi Abraham sepatutnya tercengang dan penuh dengan keraguan. Bagaimana mungkin ada suatu kerajaan yang lebih hebat lagi daripada Sumeria? Terlebih lagi, istri Abraham mandul. Tidak mungkin bagi Abraham memiliki keturunan darinya. Respons yang masuk akal adalah Abraham pulang ke Ur tempat yang enak dan nyaman. Tetapi pada umur 75 tahun, Abraham justru taat kepada perintah Tuhan dan pergi ke Kanaan, tempat yang tidak populer.

Satu tahun berlalu, dua tahun, lima tahun, hingga sepuluh tahun, tetapi Tuhan masih belum memberikan keturunan yang telah Ia janjikan itu. “Oh mungkin maksud Tuhan keturunan dari Hagar kali ya, nah itu baru masuk akal.” Abraham akhirnya mulai mencari caranya sendiri untuk mewujudkan janji Tuhan. Bukankah Tuhan tidak diikat oleh keterbatasan, sehingga Dia bisa menggunakan cara-cara lain? Dia mulai meragukan janji Tuhan, dan melakukan apa yang benar di matanya sendiri.

Akhir-akhir ini tak jarang kita mendengar kabar tentang demonstasi di seluruh dunia. Di Indonesia, Hong Kong, Perancis, Amerika, dan entah di mana lagi. Di Hong Kong, mereka meneriakkan demokrasi, di Amerika, kebencian antar ras telah terpicu kembali di dalam kekerasaan yang tak ada habis-habisnya. Terlebih lagi, Virus Corona yang menyebabkan penyakit COVID-19 telah memakan begitu banyak korban jiwa manusia. Perekonomian gagal, pemerintah gagal, sains pun gagal, dan manusia makin terdampar di dalam ketidakjelasan dan harapan yang memudar. Di manakah janji akan Kerajaan Allah yang akan datang itu? Katanya kita harus menginjili, kita harus berpegang teguh pada Firman Tuhan, tetapi dunia ternyata masih kacau. Jangan-jangan kita terlalu idealis. Tekanan dari masalah pribadi pun mulai bermunculan dan hati kita mulai goyang. Kita mulai menarik diri dari tanggung jawab pengabaran Injil, dan menoleh kepada masalah-masalah pribadi kita sebagai fokus terutama di dalam hidup, karena toh ya Kerajaan Tuhan dan janji-Nya terlalu jauh dari realitas, dari apa yang ada di depan mata. Maka kita pun mulai seperti Abraham dan memutuskan apa yang paling benar berdasarkan situasi dan kehendak diri. Situasinya memang begini. Teman-teman dan keluarga terus mendorong kita untuk mementingkan permasalahan dunia ini. “Untuk apa engkau ke gereja?” “Tidak tahukah engkau kalau ada virus mematikan yang beredar di sekitarmu?” Tekanan terus berdatangan, memaksa kita menarik diri dan berfokus pada permasalahan pribadi, melupakan Kerajaan Allah dan melupakan mandat untuk menjadi berkat bagi orang lain. Namun sama seperti Abraham, Allah yang memanggil adalah Allah tidak pernah melupakan janji-Nya, bagian Abraham adalah menaati perintah Allah dan menjadi berkat bagi sesama.

Kristus seharusnya menjadi pribadi yang paling menarik bagi dunia. Ketika Dia mati untuk menebus dosa-dosa manusia, manusia justru menolak dan menghina-Nya. Namun ketika Dia kembali ke sorga, Kristus tetap tidak memikirkan diri-Nya sendiri, justru Dia memerintahkan murid-murid-Nya untuk menjadi berkat bagi seluruh dunia, untuk pergi memberitakan Injil ke seluruh bangsa. Masa-masa ini mungkin sulit, tetapi justru di masa inilah sesama kita paling membutuhkan Injil. Ketika seolah tidak lagi ada pengharapan, tetaplah berpegang teguh pada Firman-Nya; Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ingatlah keterbatasan pengertian manusia dan mintalah kekuatan Tuhan untuk tetap mampu menjadi berkat bagi sesama. Kiranya Tuhan menolong kita! Amin. (HES)