Ancaman Dari Imam Besar #1

Reforming Heart - Day 336

Kisah Rasul 5:17-24

Ancaman Dari Imam Besar #1

Devotion from Kisah Rasul 5:17-24

Imam besar dan para ahli Taurat dari golongan Saduki menjadi iri hati kepada para rasul. Mereka begitu iri karena pengaruh besar yang dimiliki oleh para nelayan pengikut Yesus ini. Mereka mau membungkam kebenaran para utusan Injil itu. Bagaimanakah kebenaran dapat dibungkam? Dengan kekerasan tentunya. Bukankah cara ini berhasil untuk membungkam Yesus dari Nazaret? Kekuatan kekerasan dilakukan oleh orang-orang yang sudah tidak punya cara untuk melawan kebenaran. Bungkam kebenaran harus dengan kekerasan. Karena membungkam kebenaran tidak bisa dilakukan dengan berdebat. Siapa bisa berdebat melawan kebenaran? Kekuatan kebenaran juga tidak bisa dibungkam dengan mengalahkan pengaruhnya. Bagaimana bisa membangun “kebenaran” dan mengalahkan kebenaran yang sejati? Maka ketika cara-cara tadi semua gagal, cara terakhir adalah bungkam kebenaran dengan kekerasan.

Itu sebabnya di dalam ayat 18 mereka menangkap para rasul dan memenjarakan mereka. Mereka berasumsi bahwa tembok-tembok penjara akan sanggup membungkam suara Injil. Tetapi itu mustahil terjadi. Tembok penjara tidak bisa membungkam Injil. Kematian pun tidak bisa! Yesus mati, tetapi Dia bangkit! Injil tidak bisa dibungkam. Siapa pun yang meremehkan kuasa Injil adalah orang bodoh. Siapa orang Kristen yang lupa bahwa Injil merupakan kuasa yang melampaui kuasa maut sekalipun, dia akan hidup dengan kehilangan kesempatan mengalami kuasa tersebut. Petrus tidak lupa kuasa Injil adalah kuasa kebangkitan Yesus. Tembok penjara bukan sesuatu yang bisa menghalangi berita Injil, maka Petrus tidak bisa diancam oleh penjara. Ayat 19 menyatakan bahwa Tuhan tidak meninggalkan utusan-Nya yang sedang berusaha dibungkam oleh kuasa dunia ini. Seorang malaikat diutus turun ke dalam dunia untuk membebaskan Petrus dari penjara. Tidak ada yang bisa tahan kalau Tuhan sudah turun tangan menjaga utusan Injil-Nya.

Tuhan menyertai utusan-Nya untuk memberitakan Injil. Ketika Petrus dan Yohanes ditangkap pertama kali, murid-murid mendoakan Petrus dan Yohanes (Kis. 4:23-30). Ketika Petrus kembali ditangkap, doa para murid telah didengar. Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menjaga anak-anak-Nya. Janji penyertaan Tuhan tidak mungkin batal. Tuhan tidak pernah lalai melindungi anak-anak-Nya sampai saat Dia memanggil mereka pulang. Tetapi perlindungan Tuhan harus dimengerti dengan benar. Tuhan tidak melindungi anak-anak-Nya supaya anak-anak-Nya bisa hidup seenak mereka. Tidak. Siapa pun yang mau hidup sesuka sendiri sedang menuju ke jurang kebinasaan. Tidak ada orang yang bisa mengalami damai sejati kalau dia hanya mau mengerjakan kehendaknya sendiri. Tetapi siapa yang hidup untuk mengerjakan kehendak Tuhan, dia akan menemukan kelimpahan dan damai yang sejati. Tuhan menciptakan kita supaya kita melayani Dia. Di dalam melayani Dia inilah kita mendapatkan kepenuhan hidup dan penyertaan-Nya yang ajaib. Itu sebabnya setelah para malaikat membebaskan Petrus dari penjara, dia segera mengingatkan Petrus untuk segera pergi ke Bait Suci dan memberitakan Injil lagi.

Tugas Petrus adalah mengabarkan Injil kepada sebanyak mungkin orang. Dari menaati tugas inilah Petrus mengalami kuasa Allah, penyertaan Allah yang ajaib, dan kekuatan penghiburan dari Allah. Siapa siap mengabarkan Injil, lalu benar-benar memberitakannya kepada sebanyak mungkin orang, maka dia pun akan mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib. Mengapa banyak orang begitu puas dan senang dengan menjalani hidup yang terus rutin bagi diri sendiri? Kehidupan menjadi rutinitas yang tidak berarah karena tidak jelas dilakukan untuk apa. Mengapa tidak coba menggumulkan apa yang Tuhan mau? Memohon supaya Dia pimpin jalan, memberikan penyertaan, dan menyatakan kuasa yang melampaui akal yang Dia janjikan bagi orang-orang yang melayani Anak-Nya. Tidak ada yang lebih terhormat daripada melayani Kristus karena penghormatan itu datang dari Sang Bapa di Surga (Yoh. 12:26). Biarlah kita boleh mengumpulkan keberanian, bergantung kepada Tuhan, mengisi diri dengan firman yang limpah dan berita Injil yang berkuasa, lalu mengabarkan Kristus kepada sebanyak mungkin orang. Inilah cara melihat penyertaan Tuhan yang begitu agung. Tuhan tidak janjikan penyertaan-Nya ketika kita duduk-duduk santai menikmati alam. Tuhan tidak janjikan penyertaan-Nya ketika kita menjalani hidup yang tanpa tantangan. Tetapi Tuhan janjikan penyertaan-Nya yang melampaui segala sesuatu ketika kita memberitakan Injil. Mengapa? Karena pada waktu kita memberitakan Injillah kita akan menghadapi tantangan dari orang-orang dunia ini. Mereka akan mengancam kita. Mereka akan memenjarakan kita. Mereka bahkan mungkin membunuh kita. Menghadapi kekuatan ancaman sedemikian mengerikan, bagaimana mungkin kita bertahan? Kita perlu berpegang kepada janji penyertaan Tuhan karena mengabarkan Injil mustahil dilakukan tanpa mengandalkan penyertaan Tuhan.

Ayat 21 mengatakan bahwa Petrus menaati perintah malaikat itu. Dia kembali ke Bait Suci dan mengajar orang-orang berita Injil. Petrus taat. Apakah dia tidak takut? Baru dipenjara, sekarang seperti minta dipenjara lagi? Apakah dia tidak kapok? Tidak. Mengapa tidak? Karena dia sudah mengalami kuasa penyertaan Tuhan. Bagi Petrus tidak ada kemungkinan untuk tidak menaati Tuhan. Tidak ada kata mundur dari perintah Tuhan. Dia kembali ke Bait Suci dan kembali mengajar.

Ayat 21 juga mengatakan bahwa para imam mengumpulkan pemimpin-pemimpin agama. Mereka mendiskusikan akan diapakan Petrus. Mereka pikir mereka memegang nasib para rasul ini di tangan mereka. Sama seperti beberapa waktu lalu mereka pikir mereka memegang nasib Yesus Kristus di tangan mereka. Mereka tidak tahu bahwa merekalah yang sedang ada dalam genggaman tangan murka Allah. Siapa pun yang tidak tahu kuasa Tuhan, mereka pikir mereka bisa melawan Tuhan dengan sembarangan. Tetapi Tuhan sudah memberikan peringatan bahwa siapa yang melawan Sang Anak akan binasa oleh Sang Anak (Mzm. 2:7-12). Dunia ini pikir bisa mengatur umat Tuhan. Mengatur apa yang harus dilakukan kepada kita, mengatur bagaimana kita harus hidup, mengatur bagaimana kita harus mati. Tetapi kuasa mereka tidak mungkin bisa mengalahkan kuasa Tuhan. Tuhan memegang nasib mereka, mereka tidak memegang nasib kita. Biarlah kita menyerahkan segala kesulitan yang kita peroleh dari dunia ini dan percaya penuh bahwa Tuhanlah yang menentukan hidup mati kita.

Untuk direnungkan:
Saat ini orang-orang Kristen yang hidup sebagai minoritas di beberapa negara terus mengalami kesulitan dari kaum mayoritas. Betapa menghibur ketika mereka tahu bahwa Petrus dan para murid di gereja mula-mula juga adalah kaum minoritas secara jumlah. Minoritas secara jumlah, tetapi mayoritas secara kuasa! Sebab ketika tangan kita berhenti untuk memberikan kekuatan untuk menolong kita, pada saat itulah Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk melakukan pekerjaan yang tangan kita tidak sanggup kerjakan. Biarlah gereja yang sungguh-sungguh mau menyembah Tuhan, mau menyenangkan Tuhan, mau menerapkan firman dengan setia, mau mengasihi, mau mengabarkan Injil, dan mau mengajar doktrin yang benar tidak gentar dengan ancaman apa pun. Mungkin kesulitan izin gereja, tentangan waktu beribadah, pengusiran, pengancaman, bahkan serangan begitu menakutkan, tetapi ingatlah kuasa Tuhan dan kasih-Nya bagi kita. Kita dikasihi oleh Tuhan yang Mahakuasa. Siapa yang bisa melawan kita walaupun kita sangat lemah? Itulah sebabnya lagu Kristen bagi anak-anak mengatakan bahwa, “little ones to Him belong, they are weak but He is strong.” (JP)

Kisah Rasul 5:17-24