Berbahagialah Mereka yang Tulus

Reforming Heart - Day 202

Matius 5:1-12

Berbahagialah Mereka yang Tulus

Devotion from Matius 5:1-12

Ucapan bahagia yang berikut akan kita bahas di sini. Mulai ayat 5 hingga 8 Yesus membahas tentang keadaan hati, lepas dari situasi yang dialami. Keadaan hati yang penuh dengan kerelaan untuk mengabaikan diri, keadaan hati yang penuh dengan kerinduan akan yang benar, keadaan hati yang mudah berbelaskasihan, hingga keadaan hati yang murni. Mari kita lihat satu per satu.

Ayat 5 mengatakan berbahagialah mereka yang lemah lembut. Orang yang lemah lembut (bahasa Inggris: meek, bahasa Yunani: praus) adalah orang yang memiliki kualitas hati yang tenang, tidak mudah tersinggung, tidak mudah tersulut emosinya, karena memang tidak memberikan fokus hati kepada dirinya sendiri. Orang yang lemah lembut tidak menganggap perlu balas dendam meskipun mungkin dia punya kemampuan yang lebih dari cukup untuk melakukannya. Dia juga merasa tidak perlu menonjolkan diri, meskipun memiliki segala yang diperlukan untuk menjadi orang yang menonjol prestasinya. Dia juga tidak ingin membuat dirinya menjadi utama atau penting. Ini adalah orang-orang yang rela direndahkan karena mereka tidak pernah menganggap dirinya yang utama. Mereka tidak pernah ngotot untuk diri sendiri. Tuhan Yesus adalah orang yang paling sempurna di dalam kelemahlembutan. Dia tetap diam ketika dihina, difitnah, bahkan disiksa hingga akhirnya mati di kayu salib. Dia rela menjalani itu semua meskipun dia sanggup melawan dan membela diri-Nya. Yesus mengatakan berbahagialah orang-orang yang seperti ini karena mereka justru akan mewarisi bumi. Orang yang lemah lembut akan mewarisi bumi karena bumi ini memang tidak untuk diperebutkan, tetapi untuk diberikan. Seperti tanah Kanaan tidak untuk diperebutkan antara suku Israel yang satu dengan yang lain, tetapi untuk dinikmati karena akan diberikan oleh Tuhan kepada setiap suku Israel. Demikian juga bumi akan diperbarui oleh Tuhan dan mereka yang tidak pernah bertarung untuk kepentingan diri sendiri, justru merekalah yang akan memperoleh bagian di dalam bumi yang baru. Mereka yang sibuk berjuang demi diri, bertarung demi diri, akan kehilangan segala yang mereka perjuangkan karena Alkitab mengatakan Tuhan memberikannya kepada mereka yang Dia kasihi bahkan ketika mereka ini tidak berjuang seperti orang-orang lain (Mzm. 127:1-2). Orang yang lemah lembut tetap bergiat dan berjuang, tetapi mereka tidak pernah melakukannya untuk kepentingan diri sendiri. Mereka selalu melakukan hal yang akan memberkati orang lain tetapi bukan diri. Mereka akan membela keadilan, tetapi membiarkan ketika diri mereka sendiri ditimpa ketidakadilan. Merekalah yang akan memperoleh warisan dari Tuhan Allah.

Ayat 6 mengatakan: Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran (dikaiosune). Yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang merasa sedih dan sakit hati karena terjadi ketidakadilan (baik di masyarakat maupun di dalam diri sendiri). Orang-orang yang merasa tidak tenang kalau kebenaran Tuhan, sifat-sifat moral Tuhan, sudah diabaikan dan tidak lagi terlihat di dalam diri orang-orang yang ada di dunia ini. Ada orang-orang yang begitu peka untuk untung rugi sendiri tetapi ketika moral di lingkungan tempat mereka hidup begitu merosot dan rusak, mereka tidak peka dan tidak terganggu. Kita membaca koran setiap hari, bukankah begitu banyak kejahatan dan kecemaran di dalam masyarakat kita? Pemimpin yang korup dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu saja, anak-anak muda yang hanya tahu berkelahi, orang memerkosa, membunuh, menindas, dan lain-lain. Betapa kacaunya dunia tempat kita hidup karena dosa! Betapa rusaknya keadaan dunia kita ini akan mengganggu perasaan orang-orang yang lapar dan haus akan righteousness, kebenaran.

Tetapi orang-orang ini bukan hanya merasa bahwa orang lain dan masyarakat saja yang kurang beres. Dia juga peka melihat diri yang kurang beres, dan dia rindu membereskan kerusakan yang terjadi pada dirinya. Baik orang lain maupun dirinya harus kembali kepada sifat moral Allah. Orang yang hanya peka melihat kerusakan orang lain dan masyarakat tetapi tidak sanggup mendeteksi dosa sendiri itu bagaikan orang-orang Farisi. Bahkan ketika Tuhan Yesus berseru kepada mereka: “Celakalah kamu, hai orang munafik!” mereka tetap tidak sadar kalau diri mereka rusak. Mereka bahkan ingin membungkam suara yang mengoreksi mereka dan membunuh Yesus. Orang-orang yang rindu keadaan dunia ini dipulihkan, keadaan moral diperbaiki menjadi seturut sifat-sifat Tuhan, kekudusan hidup dikembalikan dan terjadi kebangunan di tengah-tengah umat Tuhan, orang-orang ini sangat menderita di tengah-tengah kerusakan yang terjadi. Tetapi Tuhan sudah berjanji bahwa mereka pasti akan berbahagia karena kehausan mereka akan kebenaran akan dipuaskan. Tuhan akan memperbaiki dunia ini dengan sempurna. Bersabarlah di dalam kesesakan karena banyak ketidakadilan dan kecemaran terjadi di dunia ini. Berjuang sambil menantikan waktu Tuhan, inilah yang Tuhan inginkan dilakukan oleh orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Biarlah kita dengan tenang dan sabar menanti pertolongan yang dari Tuhan sehingga segala kejahatan dan ketidakadilan akan dihakimi oleh-Nya dengan adil dan benar.

Bagian selanjutnya di dalam ayat 7 mengatakan bahagialah mereka yang murah hati. Ini adalah orang-orang yang hatinya gampang tergerak oleh belas kasihan. Mereka selalu rela menolong karena tidak tahan dengan hati yang tersentuh oleh belas kasihan mereka. Orang-orang yang menolong orang lain dengan tulus, bukan untuk menjalin relasi atau mencari keuntungan jangka panjang, tetapi yang menolong karena tergerak oleh belas kasihan, mereka ini juga akan menerima belas kasihan dari Tuhan. Orang-orang yang gampang merasa maklum, mengasihani dan berusaha memahami posisi orang lain, kepada mereka Tuhan juga akan memberikan kesabaran, kemurahan, dan belas kasihan-Nya. Jangan menjadi orang yang kejam! Tuhan juga akan kejam kepada kita agar kita tahu bagaimana rasanya diperlakukan kejam. Jangan menjadi orang yang dingin dan hatinya tidak tergerak oleh belas kasihan. Tuhan nanti akan bersikap dingin juga kepada kita. Tetapi orang-orang yang sangat mudah merasa kasihan, Tuhan pun akan memberikan belas kasihannya kepada orang-orang itu.

Ucapan bahagia terakhir yang kita bahas pada hari ini adalah berbahagialah orang yang suci hatinya. Kata “suci” lebih tepat diterjemahkan “murni”. Siapakah dia yang murni hatinya? Dia adalah orang-orang yang jujur, tidak ada motivasi terselubung, tulus di dalam perkataan dan perbuatan. Orang-orang ini adalah orang-orang dengan keadaan hati sinkron dengan tindakan maupun perkataan. Apa adanya, tidak punya keinginan menipu, atau memainkan strategi apa pun di dalam relasinya dengan Tuhan maupun dengan orang lain. Banyak orang pura-pura mau menyembah Tuhan, datang kepada Dia, tetapi ternyata mencari keuntungan bagi diri sendiri. Tidak ada kerinduan yang tulus untuk datang kepada Tuhan. Tetapi orang-orang yang pura-pura ini akan dihakimi oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah berkenan kepada orang-orang yang berpura-pura. Siapa yang belat-belit, kepada dia Tuhan juga akan bertindak belat-belit (Mzm. 18:27). Jangan mempermainkan Tuhan! Dia akan mempermainkan kita kembali! Mazmur 15:1-5 menjelaskan tentang orang yang murni hatinya. Dia yang murni hatinya boleh mendekat ke gunung Tuhan. Mereka boleh memandang wajah Allah mereka karena Allah mereka juga adalah Allah yang murni hatinya. Allah kita adalah Allah yang jujur. Dia tidak mungkin berdusta. Dia tidak mungkin mengucapkan firman yang berbeda dengan keadaan yang nyata. Dia tidak mungkin berbeda antara yang dinyatakan dengan apa yang sebenarnya. Tuhan adalah teladan di dalam kemurnian hati, dan oleh karena itu siapa yang meneladani Dia dengan sesungguh-sungguhnya akan melihat wajah-Nya.

Apakah kita termasuk orang-orang yang kepadanya Tuhan berkata, “Berbahagialah”? Ataukah jangan-jangan kita termasuk kelompok orang-orang yang akan mendengar Tuhan berkata, “Celakalah!”? Biarlah kita belajar memiliki hati yang lemah lembut, tidak berjuang dan bertarung demi kepentingan diri. Biarlah kita belajar memiliki hati yang rindu kebenaran Tuhan. Biarlah kita memiliki hati yang mudah tersentuh oleh belas kasihan. Biarlah kita juga memiliki kemurnian hati di dalam berelasi dengan Tuhan dan sesama kita.

Doa:
Tuhan, kasihanilah kami. Berikan kami hati yang terus diperbarui oleh-Mu. Kami ingin mencerminkan sifat-sifat Tuhan Yesus, bersihkanlah kami ya Tuhan. Kami rindu berbahagia bersama dengan umat Tuhan yang diperkenan Tuhan bukan karena kami layak, tetapi karena kami telah mendapatkan belas kasihan-Mu, yaitu belas kasihan yang mengubahkan hati kami senantiasa. (JP)

Matius 5:1-12