Daud dan Batsyeba

Reforming Heart - Day 59

2 Samuel 11:1-27

Daud dan Batsyeba

Devotion from 2 Samuel 11:1-27

Ayat 1 mengatakan bahwa Yoab sedang maju bersama dengan pasukannya untuk memerangi orang Amon ketika para pemimpin biasanya berperang. Apakah ada waktu perang yang rutin pada waktu itu? Tidak. Tetapi pada waktu pergantian tahun, yaitu ketika sedang berada dalam musim semi dan pasukan perang yang sedang bergerak tidak terhambat oleh hujan, salju, ataupun panas, pada waktu itulah para tentara bisa bergerak dengan lebih baik. Lalu dikatakan juga bahwa Daud sendiri tinggal di Yerusalem. Mengapa Daud tinggal di Yerusalem? Karena dia dan pasukan Israel yang lain sedang menanti keadaan pasukan Israel di bawah pimpinan Yoab. Jika pasukan Yoab terpukul kalah oleh Amon, maka pasukan Daud tetap mempunyai kekuatan besar untuk membalas kekalahan itu. Jika pasukan Amon yang terpukul, maka pasukan Daud akan datang mengklaim kemenangan bagi raja Daud (2Sam. 12:28). Ini adalah strategi perang yang dapat dilakukan jika suatu bangsa memiliki kekuatan militer dan jumlah tentara yang besar. Sebab jikalau tidak, bagaimana mungkin sebuah bangsa membagi dua kekuatan pasukannya dan tetap mempunyai kemampuan perang yang sangat kuat? Strategi yang dilakukan Daud ini dilakukan dalam perang melawan Aram. Dalam 2 Samuel 10:7 Daud menyuruh Yoab pergi berperang. Dalam ayat 17, ketika jumlah pasukan musuh menjadi sangat besar, Daud sendirilah yang maju berperang. Tetapi strategi ini membuat Daud melupakan sifat gembalanya yang dulu dia miliki. Sifat yang membuat dia sangat dihormati karena kerelaannya untuk mengalami keadaan yang sama dengan tentaranya yang rendah. Sifat yang mau dihormati bersama dengan para budak perempuan (2Sam. 6:22). Kemenangan demi kemenangan membuat Daud terlena sehingga ketika Yoab dan pasukan Israel sedang memerangi Amon, Daud berbaring di tempat tidurnya untuk istirahat. Bandingkan dengan tindakan dan perkataan Uria di dalam ayat 9 dan 11. Uria tidak mau tidur di tempat yang nyaman sedangkan Daud tidur siang dengan nyenyak ketika Yoab dan tentara Israel sedang berada di medan perang. Bandingkan pula ketika Daud berada dalam pelarian dan dia tidak bisa berhenti memohon pertolongan Tuhan. Keadaan bahaya membuat dia tidak bisa tidur dengan tenang. Tetapi kemenangan demi kemenangan membuat dia berhenti bergantung kepada Tuhan. Dia bahkan dapat tertidur dengan tenang ketika Israel sedang berada dalam ancaman Amon dan Aram. “Bukankah setiap kali selalu berakhir dengan kemenangan Israel? Apa perlunya berlutut dan memohon kepada Tuhan? Pasukan Israel terlalu kuat bagi siapa pun. Separuh pasukan di bawah Yoab sudah cukup untuk menangani Amon. Sekarang waktunya santai dulu dan tidur siang.” Demikian mungkin pikiran Daud.

Tetapi keadaan Daud yang sudah terlena membuat dia sangat rentan untuk berdosa. Mengapa? Karena ketika kebergantungan kepada Tuhan begitu longgar, hati nurani mulai kehilangan ingatan akan firman. Dan di mana firman Tuhan tidak didengar dan ditaati, maka dosa akan datang dan menaklukkan kita. Daud melihat Batsyeba sedang mandi. Dia adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Lalu orang yang mengenalnya mengatakan kepada Daud bahwa perempuan itu adalah anak dari Eliam dan istri dari Uria. Siapakah Eliam? Mungkin Eliam adalah anak dari Ahitofel, penasehat Daud. Bagaimana dengan Uria? Uria adalah salah satu dari 30 pahlawan Daud. Salah satu tentara terkuat Daud. Bukankah ini adalah peringatan dari Tuhan? Jangan lanjutkan niat hatimu untuk berdosa dengan Batsyeba. Dia cucu dari penasehatmu dan istri dari tentara terbaikmu. Tetapi Daud tidak mendengarkan peringatan ini. Dia menyuruh orang memanggil Batsyeba dan dia tidur dengan Batsyeba.

Dosa Daud sepertinya akan tertutup jika saja Batsyeba tidak hamil. Tetapi Batsyeba hamil. Ini pun adalah peringatan dari Tuhan. Jika dosa Daud tidak terbongkar, mungkin dia akan makin tenggelam dalam dosa yang sama. Tetapi ternyata kehamilan Batsyeba tidak membuat Daud mengakui perbuatannya dan memohon ampun kepada Tuhan. Daud malah memanggil Uria, berpura-pura mau menanyakan keadaan perang yang sebenarnya tidak terlalu dia pedulikan. Rencana Daud adalah membawa Uria pulang supaya dia tidur dengan istrinya, Batsyeba, dan dengan demikian anak yang dilahirkan Batsyeba akan dianggap sebagai anak Uria. Tetapi kalimat Uria dalam ayat 11 dan tindakannya dalam ayat 9 dan 13 menunjukkan kualitas Uria. Seperti inilah tentara Daud. Begitu setia dan mempunyai jiwa kesehatian yang sangat besar dengan seluruh pasukan. Itulah sebabnya kemenangan demi kemenangan diperoleh Daud, yaitu karena tentara-tentara yang ada dalam pasukan Daud benar-benar berdedikasi tinggi. Tetapi Daud malah berencana untuk membunuh Uria karena rencananya untuk membuat Uria pulang ke rumahnya tidak berhasil. Maka Daud menulis surat untuk Yoab untuk membuat Uria mati terbunuh dalam peperangan. Surat ini, ironisnya, diantar sendiri oleh Uria. Lalu Yoab menempatkan Uria di tempat terdepan dalam serangan ke benteng kota. Yoab menyuruh pasukan itu maju hingga terlalu dekat tembok kota sehingga para pemanah menembakkan panahnya dari tembok kota dan membunuh beberapa tentara, termasuk Uria.

Inilah kejatuhan besar Daud. Bermula dari usahanya menjalin perjanjian dengan seteru Israel, dilanjutkan dengan keadaan terbuai karena keamanan dan kekuatan tentara yang dia miliki, hingga menikmati tubuh istri orang lain, sampai merancangkan pembunuhan salah satu tentaranya yang terbaik. Apakah ini dosa-dosa yang kecil? Tidak. Dosa-dosa Daud sangat besar. Kita tidak bisa membayangkan Daud sanggup melakukan hal-hal seperti ini. Dia hidup dengan sangat jauh dari Tuhan. Dia sudah menghina Allah yang telah memberinya begitu banyak hal. Allah yang telah memberikan dia keamanan dan kerajaan yang kokoh. Dia mulai bertindak secara politis dengan mengikat perjanjian dengan raja Amon. Dia mulai bertindak sebagai seorang penikmat kesenangan dengan hidup santai dan mengikuti hawa nafsu. Dia berzinah dengan istri orang lain dan seharusnya dihukum mati. Dia menutup dustanya dengan trik mendatangkan Uria. Dia tidak peduli apa pun kecuali nama baik dan kesenangannya sendiri. Kita seperti mendapatkan gambaran tentang Daud yang berbeda dengan gambaran Daud sebelumnya. Tidak ada lagi seorang panglima agung yang dulu kita kenal. Sekarang yang ada hanya raja kaya yang hidup di tengah-tengah keadaan santai dan yang dikurung oleh hawa nafsunya sendiri. Dan untuk menutupi semuanya, Daud menjadi pembunuh yang membunuh korbannya dengan tipu daya licik. Tipu daya yang membuat dia terlihat seperti pahlawan benar yang patut dipuji ketulusannya. Setelah Uria mati Daud mengambil Batsyeba menjadi istrinya dan dengan demikian mengambil hati rakyat yang menyangka bahwa dia menikahi Batsyeba untuk menolong Batsyeba setelah suaminya mati. Tidak ada yang tahu kalau suami Batsyeba mati dibunuh Daud secara tidak langsung. Tidak ada yang tahu kalau kandungan dalam perut Batsyeba adalah anak Daud dari hubungan gelap yang mereka lakukan. Kejatuhan yang sangat besar ini membuat Tuhan marah kepada Daud. Tuhan memandang jahat tindakan Daud ini.

  1. Kaitan bagian ini dengan seluruh Kitab 2 Samuel
    Bagian ini secara luar biasa mempersiapkan kita untuk kelahiran anak Daud yang akan membangun Bait Allah, yaitu Salomo. Tuhan menggenapi janjinya dari tengah-tengah peristiwa yang sangat membuat Tuhan marah. Kejatuhan Daud ini menggambarkan bahwa Daud hanyalah orang berdosa yang Tuhan bangkitkan dan beri anugerah. Tetapi justru karena itulah Alkitab menyatakan kebenaran yang sejati. Alkitab tidak menyembunyikan fakta yang jelek tentang dunia ini. Alkitab juga tidak menyembunyikan fakta kerusakan tokoh-tokoh utama di dalam tulisannya. Jika memang dia berdosa maka Alkitab akan mencatatnya sebagaimana adanya. Daud hanyalah seorang berdosa yang seharusnya dibinasakan. Anugerah Tuhanlah yang membuat dia bertakhta atas umat Tuhan dan memimpin dengan hati yang sungguh-sungguh berpaut kepada Tuhan. Mulai bagian ini hingga seterusnya, Kitab 2 Samuel membahas segala kesulitan yang didapatkan oleh Daud. Mulai dari kematian anak hingga terusir dari Yerusalem dan harus memerangi anaknya sendiri. Segala kesulitan yang akan memulihkan keadaan spiritual Daud kembali seperti sediakala.
  2. Apakah yang dapat kita pelajari?
    Bagian ini mengingatkan kepada kita bahwa kondisi rohani kita tidak pernah aman. Setiap hari adalah peperangan untuk mematikan dosa dan menaati Allah. Tidak ada saat di mana kita boleh berhenti bergantung kepada Allah. Ketika keadaan rohani kita berhenti menyadari bahwa kita sedang berperang, maka kerohanian kita itu pasti hancur di dalam dosa. Tetapi ketika kita sadar bahwa kita sedang berada dalam peperangan rohani, maka kita tidak akan tenang. Kita akan terus berjaga-jaga dan bergantung kepada Tuhan. Siapakah di antara kita yang mempunyai karakter agung seperti Daud? Siapakah di antara kita yang mengasihi Allah dan memuji Dia dengan puji-pujian yang lebih indah dari Mazmur-mazmur Daud? Jika Daud pun dapat jatuh sedemikian dalam, bukankah kita juga dapat? Mari kita senantiasa berjaga-jaga. Jangan berhenti melihat kepada Allah dan berserah kepada Dia. Taati Dia dan perbarui senantiasa hati kita untuk hidup di dalam kesucian Allah. Bagaimana caranya? Yang pertama: Daud jatuh ketika dia berhenti berjuang di dalam peperangan. Daud tidak maju bersama dengan pasukan Israel. Dia tidak lagi berjuang dan bertarung seperti ketika dia masih dalam pelarian dan seperti ketika dia masih baru menjadi raja Israel dan pergi memerangi Filistin (2Sam. 5:19-20). Demikian juga kita akan sangat mudah jatuh bila kita tidak lagi berjuang untuk kondisi rohani kita. Jika kita tidak dengan tekun memelihara relasi kita dengan Tuhan dan dengan firman-Nya, dari manakah kekuatan untuk bertahan dalam peperangan melawan dosa?

    Hal kedua adalah Daud tidak lagi bergantung pada Tuhan. Sejak dia berniat mengikat perjanjian dengan orang Amon, hingga peperangan melawan Amon dan Aram, Daud tidak lagi bertanya kepada Allah mengenai apa yang harus dilakukan. Dia terus menerus mendapatkan kemenangan sehingga keadaan jiwa yang bergantung kepada Tuhan mulai hilang. Demikian juga ketika hidup kita mapan dan nyaman. Semua tersedia. Untuk apa lagi berdoa? Untuk apa lagi memohon kepada Tuhan? Bukankah tanganku sanggup mendatangkan semua yang aku perlukan? Bukankah saya cukup kuat untuk menjalani hidup ini? Tetapi di saat kita merasa kuat, di situlah kelemahan kita (2Kor. 12:10). (JP)

2 Samuel 11:1-27