Gembala yang Palsu

Reforming Heart - Day 171

Zakharia 11:1-17

Gembala yang Palsu

Devotion from Zakharia 11:1-17

Seorang ahli Perjanjian Lama bernama S. R. Driver mengatakan bahwa nubuat Zakharia 11 adalah nubuat paling penuh teka-teki di seluruh Perjanjian Lama.i Itu sebabnya kita perlu melihat bagian yang mirip, tetapi berlawanan, dari Yehezkiel 34:10-12. Yehezkiel mengatakan bahwa para gembala yang jahat (yaitu para pemimpin politik dan raja-raja) akan dihakimi oleh Tuhan. Tuhan membuang Israel dan Yehuda karena raja-raja mereka yang rusak menyebabkan seluruh rakyat menjadi rusak. Dia tidak akan membiarkan raja-raja kejam yang menindas rakyat mereka sendiri. Dia akan menghakimi mereka semua dan membuang mereka semua. Semua raja yang kejam dan mengabaikan Tuhan itu akan dihukum dan Tuhan akan mengangkat gembala yang sejati, yaitu Sang Anak Daud untuk menggembalakan mereka. Tuhan menjanjikan Sang Raja sejati. Siapakah Sang Raja sejati itu? Dia adalah Tuhan sendiri (Yeh. 34:11-12). Tetapi Dia juga adalah Daud (Anak Daud, Sang Mesias), sebagaimana dikatakan oleh Yehezkiel 34:23-24. Tetapi ini adalah nubuat yang dapat disalahmengerti. Orang Israel yang tidak tahu siapakah yang sedang dibicarakan Tuhan dapat salah dan menyambut gembala palsu lainnya sebagai Sang Raja sejati itu. Inilah yang ingin dicegah oleh Tuhan melalui Zakharia. Dalam kitab ini Tuhan malah memerintahkan gembala palsu untuk memerintah atas umat Tuhan. Dalam Zakharia 11:4 Tuhan memerintahkan Zakharia untuk menjadi contoh dari gembala yang jahat, yang akan Tuhan bangkitkan untuk memerintah Israel. Zakharia akan menggembalakan domba-domba sembelihan. Domba-domba ini dibimbing bukan untuk mendapatkan rumput yang hijau atau air yang tenang, tetapi untuk dibantai dan diambil dagingnya. Gembala-gembala yang jahat itu bahkan bersyukur kepada Tuhan karena boleh mendapat untung dari menjual domba-domba itu yang dibantai.

Ayat 7 mengatakan bahwa Zakharia membawa tongkat yang disebut “kemurahan” dan “ikatan.” Tetapi tingkah Zakharia sangat tidak sesuai dengan dua tongkat itu. Ayat 8 mengatakan bahwa tiga orang gembala tersingkir karena Zakharia. Mungkin Zakharia bertindak begitu jahat sehingga mereka tidak tahan menjadi gembala bersama-sama dengan Zakharia. Zakharia menjadi begitu jahat sehingga domba-domba pun tidak lagi tahan terhadap Zakharia (ay. 8). Ini semua untuk menjadi gambaran mengenai rancangan Tuhan yang mendatangkan bencana kepada umat Tuhan. Tuhan membiarkan gembala-gembala jahat memerintah umat-Nya. Ayat 9 mengatakan bahwa Zakharia bahkan membiarkan domba-dombanya mati. Dia tidak peduli kalau mereka akan mati, sakit, sekarat, atau mengalami apa pun. Ayat 10 mengatakan Zakharia mematahkan tongkatnya untuk membatalkan perjanjiannya dengan para gembala (melambangkan perjanjian Tuhan dengan umat-Nya yang rusak dan hancur karena pelanggaran umat Tuhan). Ternyata semua tindakan Zakharia adalah firman Tuhan bagi Israel. Ayat 11 mengatakan bahwa para gembala tahu bahwa Tuhan sedang berfirman melalui tingkah laku dan perkataan Zakharia. Tongkat “kemurahan” dan “ikatan” dihancurkan oleh Zakharia sebagai pesan bahwa anugerah Tuhan bagi Israel tidak akan diberikan dan perdamaian antara Yehuda dan Israel tidak akan terjadi. Tuhan bahkan menekankan bahwa gembala yang bodoh dan jahat akan menggembalakan Israel karena Tuhan memang menyerahkan Israel kepada gembala-gembala itu.

Semua tindakan Zakharia ini adalah untuk memberikan pesan dari Tuhan bahwa setiap orang yang mengaku sebagai gembala yang baik, sebagaimana dinubuatkan oleh Yehezkiel 34, adalah gembala palsu yang hanya akan membuat Israel makin sengsara. Ini adalah peringatan yang begitu keras sekaligus catatan mengenai apa yang telah terjadi dahulu di dalam sejarah Israel. Anak Daud yang Tuhan janjikan bukanlah Salomo, atau Rehabeam, atau bahkan bukan Hizkia dan Yosia. Anak Daud yang akan menggenapi janji Tuhan dengan sempurna adalah Kristus, bukan raja-raja di dalam sejarah kerajaan Yehuda dan Israel. Raja-raja Israel dan beberapa raja Yehuda bahkan menjadi raja yang membangkitkan murka Tuhan. Mereka bukanlah yang membawa damai bagi Israel, tetapi mereka bahkan akan menjadi penyebab hancurnya Israel. Namun, selain memberikan catatan mengenai apa yang pernah terjadi di dalam sejarah yang lampau, bagian ini juga memberikan peringatan bagi Israel untuk menantikan siapakah raja yang tepat. Siapakah orang yang cocok untuk memimpin Israel? Kristus, Anak Daud. Bagaimana dengan orang-orang yang datang sebelum Kristus? Mereka yang mengaku sebagai gembala seperti yang dijanjikan oleh Yehezkiel adalah pencuri dan perampok (Yoh. 10:8). Termasuk dengan mereka yang akan datang menjadi penguasa Israel seperti para imam besar, keturunan keluarga Makabeus, Herodes dan keturunannya. Tidak satu pun dari mereka adalah gembala yang dinubuatkan oleh Yehezkiel. Tuhan mau Israel menantikan Sang Mesias, bukan sekadar keturunan Daud, apalagi orang-orang lain yang mau mengambil kuasa atas Israel.

Untuk direnungkan:
Raja-raja di dunia ini memerintah dengan tangan besi, demikian dikatakan oleh Tuhan Yesus, tetapi pengikut Yesus menjadi pemimpin dengan merendahkan diri sebagai pelayan (Mat. 20:25-28). Raja yang melayani, Tuan yang menjadi hamba, Tuhan yang menyerahkan nyawa, semua ini tidak dikenal oleh pemimpin-pemimpin dunia. Siapakah yang akan menjadi raja atas Israel? Dia yang datang untuk menjadi hamba, Dialah raja Israel. Siapakah yang akan menggembalakan umat Tuhan? Dia yang menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi umat-Nya, Dialah gembala sejati.

Pengharapan orang Israel akan datangnya raja sekarang diarahkan oleh Tuhan melalui Zakharia. Tuhan mau mereka menantikan Kristus yang sejati dan setelah Kristus itu datang, Tuhan mau mereka semua meneladani Kristus. Umat Tuhan harus meneladani Kristus. Umat Tuhan tidak boleh meneladani dunia ini, yang sibuk mencari kuasa dengan kekuatan politik atau kekuatan uang. Mengapa tidak? Karena raja kita adalah raja yang rela menjadi hamba. Tuan kita adalah tuan yang melayani. Tuhan kita adalah Tuhan yang mengorbankan nyawa-Nya.

Bagaimana dengan kehidupan kita hari demi hari? Sibuk dengan konflik karena sifat egois kita? Sibuk dengan ambisi pribadi mau menjadi yang terbaik? Sibuk dengan keangkuhan hidup? Sibuk mencari cara untuk ditakuti orang lain? Sibuk mencari cara untuk memengaruhi orang lain? Mari kita belajar dari Kristus. Dia tidak pernah memiliki ambisi apa pun demi meninggikan diri-Nya sendiri meskipun Dia sangat layak untuk ditinggikan. Apakah kita benar-benar orang Kristen? Relasi kita dengan orang lain akan terus menjadi relasi dengan melihat untung rugi. Relasi oportunistik! Tidak ada kerelaan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Mari belajar menjadi hamba bagi orang lain. Mari belajar saling menghargai. Biarlah orang Kristen tidak menghina Tuhan dengan menjadi gembala yang jahat, serakah, memanfaatkan orang lain, tetapi biarlah kita belajar meneladani Sang Gembala Agung kita.

Doa:
Tuhan, kami bersyukur karena Tuhan membenci pemimpin-pemimpin yang kejam dan tidak adil. Engkau juga membenci pemimpin-pemimpin yang menjauhkan umat Tuhan dari Tuhan. Kami memohon supaya Tuhan sendiri yang mengangkat lebih banyak pemimpin yang baik dan sungguh-sungguh takut akan Tuhan. Gembala-gembala yang akan membimbing, memimpin, dan menjadi teladan bagi umat Tuhan. Biarlah Tuhan mengangkat lebih banyak lagi orang-orang yang meneladani Kristus, baik bagi gereja-gereja Tuhan maupun bagi bangsa kami. (JP)


i Word Biblical Commentary 32 hlm. 270.

Zakharia 11:1-17