Pertobatan Daud

Reforming Heart - Day 60

2 Samuel 12:1-15

Pertobatan Daud

Devotion from 2 Samuel 12:1-15

Setelah melihat betapa besarnya dosa Daud, bagian ini menunjukkan penghukuman yang akan Tuhan berikan. Tuhan tidak pernah mengabaikan penghukuman bagi siapa pun. Orang fasik akan dihukum-Nya, tetapi orang benar juga akan dihukum Tuhan. Mengapa orang benar dihukum? Orang benar dihukum supaya dia berbalik dan tidak perlu dihukum bersama-sama dengan dunia (1Kor. 11:31-32). Daud diberikan penghukuman supaya dia kembali dari dosanya dan pulih dari keadaan yang sangat menyedihkan akibat dosa. Dalam bacaan hari ini nabi Nathan diperintahkan Tuhan untuk berfirman kepada Daud. Nathan memakai kisah mengenai domba orang miskin dan seorang yang sangat kaya. Orang kaya itu, yang telah mempunyai banyak kambing domba dan lembu sapi, mengambil anak domba betina kepunyaan si orang miskin karena dia sayang mengambil salah satu dari ternaknya untuk menjamu tamunya. Padahal orang miskin itu sangat mengasihi anak domba betinanya, bahkan dirawat sama seperti merawat anak sendiri. Mendengar ini Daud sangat marah. Dia mengatakan bahwa orang kaya itu harus dibunuh (atau lebih tepat, orang kaya itu “adalah anak dari kematian”) dan harus membayar empat kali lipat dari kerugian yang telah dia timbulkan (ay. 5-6). Ayat 7 Nathan mengatakan dengan terus terang bahwa orang itu adalah Daud! Tuhan mendengarkan permintaan Daud dan membunuh empat orang anak Daud, sama seperti dikatakan Daud bahwa orang kaya itu harus membayar empat kali lipat. Anak Daud hasil perzinahannya dengan Batsyeba mati (2Sam. 12:18). Amnon dibunuh oleh Absalom (2Sam. 13:28-29). Absalom dibunuh oleh Yoab (2Sam. 18:14). Terakhir Adonia dibunuh oleh Benaya (1Raj. 2:24-25). Empat kali lipat!

Dalam 2 Samuel 12:7-9 Tuhan menyatakan betapa besar Dia telah memberkati Daud. Tuhan memberikan segala hal untuk dinikmati oleh Daud. Tuhanlah sumber berkat-berkat yang berkelimpahan bagi Daud dan Daud menghina Tuhan dengan mengambil apa yang Tuhan tidak berikan untuk dia. Tuhan memberikan kepada setiap orang apa yang boleh dia nikmati di dalam Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan melarang pencurian. Itu sebabnya juga Tuhan melarang siapa pun mengingini milik sesamanya. Mengapa? Karena Tuhan sudah memberikan kepada setiap orang apa yang boleh dia nikmati di dalam Tuhan. Dan jika kita menghitung segala hal yang Tuhan telah berikan kepada Daud, adakah yang akan menganggap bahwa Tuhan masih kurang dalam memberkati dia? Tentu tidak. Tuhan memberikan dengan sangat berlimpah tetapi Daud menghina Tuhan dengan mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Maka Tuhan memberikan beberapa hukuman bagi Daud. Yang pertama adalah kematian tiga orang anaknya karena pedang (empat orang jika ditambah dengan anak yang diberi penyakit oleh Tuhan pada ayat 14, seperti yang dikatakan sendiri oleh Daud dalam ayat 6). Inilah yang dimaksudkan dengan pedang yang tidak akan meninggalkan keturunan Daud (ay. 10). Kematian karena pedang berarti kematian akibat pembunuhan (Amnon), perang (Absalom), atau eksekusi mati (Adonia). Ini untuk membalaskan kematian Uria yang juga karena pembunuhan oleh rancangan Daud, dilaksanakan di dalam perang, tetapi dianggap sebagai eksekusi mati oleh Yoab karena surat Daud kepada Yoab (2Sam. 11:15).

Hukuman berikutnya yang Tuhan timpakan adalah anak Daud sendiri akan mendatangkan malapetaka bagi Daud. Ini untuk membalas malapetaka yang Daud timpakan kepada keluarga Uria yang sebenarnya sangat menghormati Daud. Anak Daud, yaitu Absalom, yang Daud sangat kasihi, ingin membunuh Daud dan mengambil alih takhta kerajaan Daud. Perasaan hormat Uria kepada Daud yang dibalas dengan pengkhianatan dan pembunuhan, akan dihukum dengan pengkhianatan dan usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Absalom kepada Daud. Lalu karena Daud meniduri istri orang lain, maka Tuhan akan membuat istri-istri Daud ditiduri oleh orang lain dengan disaksikan oleh banyak orang (2Sam. 16:21-22). Betapa mengerikan hukuman Tuhan? Apakah Tuhan membunuh Daud? Tidak. Apakah Daud tidak lagi menjadi raja pilihan Tuhan? Dia tetap menjadi raja. Tetapi ini tidak berarti tindakan Daud tidak harus dihukum dengan konsekuensi yang adil. Tuhan dengan adil membalikkan segala pelanggaran Daud kepada Daud sendiri. Kita yang sudah diselamatkan tidak akan kehilangan keselamatan. Tetapi itu tidak berarti Tuhan tidak akan membalikkan dosa kita ke kepala kita sendiri kalau kita masih berani berdosa kepada Dia.

Kalimat Daud meresponi Nathan adalah, “aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Inilah awal pemulihan keadaan Daud oleh Tuhan. Daud tidak membela diri. Daud mengakui kesalahannya. Inilah bedanya Daud dengan Saul. Saul mengaku dosa, namun diikuti dengan kata “tetapi”. “Aku sudah berdosa kepada Tuhan, tetapi rakyat yang salah…” (1Sam. 15:24). “Aku sudah berdosa, tetapi tunjukkanlah hormat kepadaku…” (1Sam. 15:30). Bagaimana dengan Daud? Daud mengatakan “aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Tidak ada tambahan kata “tetapi…” Nathan mengatakan bahwa Daud tidak akan dihukum mati oleh Tuhan, tetapi anak yang dilahirkan Batsyeba akan Tuhan matikan. Dalam bagian selanjutnya kita dapat melihat bagaimana Daud tetap dengan rendah hati memohon kepada Tuhan untuk anak itu tidak mati. Tetapi Tuhan tetap menghukum Daud dengan mengambil anaknya. Setelah anak itu mati Daud sujud menyembah Tuhan. Daud yang jatuh sekarang mulai bangkit meninggalkan dosanya.

  1. Kaitan bagian ini dengan seluruh Kitab 2 Samuel
    Pernyataan hukuman dari Tuhan ini membuat pembaca disiapkan masuk ke dalam tahap berikutnya dari kehidupan Daud, yaitu tahap konflik dan kesulitan-kesulitan yang harus Daud alami setelah dia menjadi raja. Kita akan melihat bahwa kehidupan Daud tidak menjadi lebih tenang setelah dia menjadi raja. Tetapi jika sebelum dia menjadi raja segala kesulitan terjadi karena kejahatan Saul yang mengejar dia, maka setelah dia menjadi raja, segala kesulitan justru terjadi karena kejahatan Daud sendiri. Tetapi di bagian akhir kesulitan selalu muncul pengharapan. Kitab 2 Samuel tidak ditutup dengan happy ending, tetapi dengan pengharapan yang masih harus dinantikan. Demikian juga Kitab 2 Samuel bukan kitab catatan indah dengan tinta emas untuk menggambarkan keadaan raja Daud di istana dengan segala bahagia yang diperoleh. Posisi Daud sebagai raja tetaplah posisi penantian untuk menunggu Sang Raja sejati datang. Bukan Daud, tetapi Kristus yang sempurna menjalankan takhta Allah bagi umat-Nya. Bukan Daud, tetapi Kristus yang akan memberikan damai sejahtera bagi umat Tuhan. Itu sebabnya kitab ini memberikan gambaran nyata tentang kelemahan Daud dan akibat-akibat yang ditimbulkan dari kejahatan yang telah dilakukan Daud.
  2. Apakah yang dapat kita pelajari?
    Mari melihat hukuman yang Tuhan berikan kepada Daud. Sangat berat, bukan? Kepastian keselamatan di dalam Kristus membuat penghukuman kekal tidak lagi mengancam kita. tetapi konsekuensi sementara dari dosa-dosa kita tetap harus dihadapi. Jangan memandang enteng dosa. Jangan memandang enteng karena Tuhan akan menghukum. Jangan memandang enteng hukuman Tuhan yang mendidik dan mendisiplin kita (lihat Ibr. 12:5). Daud harus menanggung dengan sangat berat segala yang menjadi hukuman bagi dia. Tangisan, kesulitan, penderitaan, keadaan yang membuat dia nyaris putus asa, semua yang membuat dia tidak sanggup melakukan apa pun kecuali berseru kepada Tuhan (2Sam. 15:30). Saya mohon dengan sangat supaya kita semua berjuang mempertahankan hidup yang suci. Kita hanyalah orang berdosa yang tidak bisa bebas dari dosa dengan sempurna. Tetapi kita adalah orang berdosa yang seharusnya makin meninggalkan dosa-dosa kita. Seharusnya kita makin bersih. Makin sanggup hidup suci. Biarlah kegentaran akan hukuman Tuhan membuat kita tidak sembarangan hidup. Kita diciptakan oleh Tuhan untuk mempunyai perasaan tanggungjawab. Biarlah kita tahu bahwa untuk segala hal yang kita perbuat, kita harus memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Jangan berdosa lagi! Saya tidak tahu seperti apa hidup Saudara dahulu, tetapi yang saya sangat gumulkan di dalam doa adalah supaya hidup kita saat ini dan besok menjadi hidup yang bebas dari dosa dan memuliakan Tuhan. Ingat akan konsekuensi sementara di dunia ini. Selalu ada akibat dari pelanggaran yang kita perbuat. Karena itu janganlah berbuat dosa lagi.

    Hal berikutnya yang dapat kita pelajari adalah bagaimana Daud kembali setelah mendapat peringatan dari firman Tuhan. Setelah mendengar seruan berani dari Nathan, “Engkaulah orang itu!” Daud segera berkata “aku sudah berdosa.” Pengakuan dosa seperti Daud inilah pengakuan dosa yang tulus. Jangan menyalahkan lingkungan. Jangan menyalahkan orang tua. Jangan menyalahkan sekolah, pemerintah, gereja… Tuhan tidak sedang menghakimi mereka. Tuhan sedang menghakimi kita saat ini dan Dia mengatakan, “engkau sudah berdosa!” Mari dengan kepala tertunduk kita berkata, “ya, Tuhan, aku sudah berdosa kepadamu.” Dengan jujur mengakui dosa kepada Tuhan sambil memohon belas kasihan-Nya bagi kita. Apakah Daud tidak tahu kalau tindakannya salah? Tentu dia tahu. Itu sebabnya dia berusaha menyembunyikan dosanya dengan dosa lain yang makin membuat semuanya rusak. Tetapi mengapa dia tidak bertobat? Sebelum ada firman yang menegur, dia tetap tidak merasa perlu bertobat. Tetapi ketika teguran Tuhan datang dia berespons dengan benar kepada Tuhan dan mengakui dosanya. Biarlah perasaan berdosa kita muncul setelah kita mendengar firman Tuhan, bukan karena dosa kita sudah terbongkar. Dosa Daud sebenarnya belum terbongkar. Jikalau Daud tetap tidak mau bertobat mungkin dia bisa membunuh Nathan dan membiarkan dosanya tetap tersembunyi dengan baik. Tetapi firman Tuhan menegur Daud dan dia kembali kepada Tuhan. Setelah itu dia dengan tekun memikul apa pun hukuman yang Tuhan bebankan kepada dia karena dosa-dosanya ini.

    Bisakah dosa kita dipulihkan? Lihatlah dosa Daud. Apa yang dia lakukan sangat berat. Dia berzinah kemudian membunuh. Dia membunuh orang yang setia kepada kerajaan Israel. Daud sangat berdosa. Tetapi dosa sebesar apa pun, jika dengan tulus diakui dan ditinggalkan, tetap akan diampuni. Pengampunan yang disertai segala akibat yang memang harus ditanggung. Tetapi dosa yang dirasa kecil sehingga tidak disadari oleh kita, sering kali itulah yang membuat kita tersandung dan tidak bertobat. Mari belajar peka mendengar firman Tuhan. Ketika firman Tuhan sedang menunjukkan kepada kita dosa-dosa kita, mari berkata, “aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Kiranya Dia berbelaskasihan kepada kita semua. (JP)

2 Samuel 12:1-15