Healing is Sinning

Devotion

Healing is Sinning

20 July 2026

“Healing” sudah menjadi kebutuhan bagi banyak orang yang hidup pada zaman ini. Bukan hanya untuk orang yang sakit secara fisik, tetapi orang yang sehat jasmani pun memerlukan “healing”, karena istilah tersebut memiliki makna yang luas pada zaman ini. Stres belajar perlu healing. Lelah bekerja, perlu healing. Bosan, perlu healing. Putus cinta, perlu healing. Seolah-olah hampir seluruh aspek hidup manusia itu memerlukan healing.

Istilah “healing” tidak lagi hanya untuk orang sakit, orang stres, patah hati, bosan, jenuh, lelah pun memerlukan “healing”. Bagi zaman ini healing berarti melakukan sesuatu untuk melepas stres, menyegarkan pikiran, atau sekadar jeda dari rutinitas atau tekanan hidup. Berbagai aktivitas seperti liburan, outing, nonton, main game, memasak, atau hanya sekadar beristirahat di rumah bisa dikategorikan sebagai healing. Mungkin kita bisa menyimpulkan bahwa apa pun masalahnya, “healing”lah solusinya. Maka tidak heran kalau banyak orang Kristen yang lebih memilih untuk liburan atau istirahat daripada belajar firman Tuhan atau pelayanan.
Banyak orang Kristen yang lebih percaya kalau liburan menjadi jawaban atau solusi dari kepenatan atau tekanan hidup mereka. Aktivitas dari luar diri dianggap dapat menyelesaikan masalah yang ada di dalam diri. Mereka berpikir segala masalah dapat diselesaikan dengan kita mengambil jarak dari masalah tersebut dan di dalam “pengasingan diri” inilah kita bisa menemukan diri kita kembali dan akhirnya bisa menjawab masalah tersebut. Manusia berpikir mereka bisa mencari atau bahkan menjadi solusi dari masalah mereka, tetapi manusia tidak sadar kalau diri mereka sendiri pun bermasalah. Bukan hanya dunia ini yang rusak karena dosa, tetapi manusia pun sudah rusak karena dosa. Manusia bukan hanya sudah terhilang, tetapi manusia tidak mampu untuk menemukan jalan pulang. Mungkinkah seorang yang sudah sekarat menyembuhkan dirinya sendiri? Mungkinkah seorang yang sudah lumpuh total membuat dirinya mampu beraktivitas secara normal kembali? Mungkinkah seorang berdosa yang memberontak kepada Allah menyelamatkan dirinya sendiri dan berdamai dengan Allah? Inilah absurditas di belakang istilah healing dari dunia ini.
Alkitab dengan jelas menyatakan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, kecenderungan hatinya hanyalah berbuat kejahatan. Ini artinya manusia sudah rusak secara total di berbagai aspek kehidupan, dan tidak mampu untuk menyelesaikan masalah hidupnya secara tuntas. Bahkan hal yang mereka anggap sebagai solusi, itu pun adalah perbuatan dosa. Seperti Adam dan Hawa yang tidak bisa menutupi keberdosaan mereka dengan daun, manusia pun tidak bisa membereskan masalah dirinya dengan tuntas. Segala hal yang manusia lakukan untuk menyelesaikan masalah mereka, hanya berujung dengan keberdosaan. Jawaban dari berbagai masalah manusia bukanlah “healing”, bahkan “healing” itu sendiri pun adalah bagian dari masalah tersebut.
Alkitab menyatakan satu-satunya restorasi atau pemulihan sejati adalah saat manusia diperdamaikan kembali dengan Allah. Manusia dapat menemukan dirinya yang sejati hanya ketika mereka kembali kepada Pencipta mereka. Solusi dari masalah yang manusia alami bukan dengan menjauh dari masalah tersebut tetapi dengan meminta hikmat dari Sang Hikmat Sejati yang juga berdaulat atas segala yang terjadi di dalam alam semesta ini. Maka, sebagai orang percaya, bukankah seharusnya kita lebih mencari Allah daripada healing dunia? Bukankah seharusnya belajar firman Tuhan itu lebih krusial daripada kita pergi liburan atau beristirahat di rumah? Seharusnya kita makin hari makin menyadari bahwa hidup kita harus makin bergantung kepada Allah di dalam setiap masalah yang kita hadapi, karena hanya di dalam Dialah kita dapat menemukan hikmat dan kedamaian yang sejati. Seperti doa dari Agustinus, “You have made us for yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in you” (Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan pernah tenang sampai menemukan perhentian di dalam-Mu). (SL)