Idenya brilian dan terbukti berhasil, tetapi kenapa bos marah? Orang yang berada di atas perahu yang sama, dapat melihat sesuatu yang sama dengan cara yang berbeda. Akhirnya dari perbuatan yang kelihatannya bertujuan sama menghasilkan perbuatan yang berbeda karena di belakangnya ada motivasi dan cara pandang yang berbeda. Hal inilah yang mendorong lahirnya respons berbeda di kala suatu peristiwa dikelilingi orang-orang berbeda.
Kita pasti akrab dengan kisah Nabi Yunus dalam Perjanjian Lama, khususnya bagian di mana Yunus ditelan ikan besar. Nama Yunus sendiri artinya merpati. Merpati sering digunakan sebagai lambang kesucian, kelemahlembutan, dan pembawa pesan atau damai. Tuhan menyuruh Yunus pergi ke kota Niniwe (kota dari bangsa Asyur yang terkenal jahat dan pernah menyerang bangsa Israel) untuk menyerukan hukuman Tuhan atas kejahatan mereka. Tetapi Yunus sengaja melarikan diri ke arah yang bertolak belakang, yaitu ke Tarsis. Yunus tahu ada kemungkinan bangsa Asyur bertobat dan diampuni Tuhan, dan ia tidak mau hal itu terjadi. Lalu, Tuhan mendatangkan angin ribut sehingga perahu yang ditumpangi Yunus nyaris hancur. Ketika semua orang sangat panik lalu membuang undi dan jatuh kepada Yunus, dia mengatakan bahwa malapetaka ini dilakukan oleh TUHAN, dan akan reda jika mereka mencampakkannya ke laut. Tuhan tidak menginginkan kematian Yunus, oleh karena itu Ia memakai ikan besar untuk menelannya. Di dalam perut ikan, Yunus mengatakan, “…dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kau dengarkan suaraku… Keselamatan adalah dari TUHAN!” Ikan besar itu lalu memuntahkan Yunus ke darat. Tuhan menyuruh Yunus untuk kedua kalinya pergi dan Yunus pergi ke Niniwe. Bangsa Niniwe bertobat dan Tuhan tidak jadi menghukum mereka. Yunus marah dan mengatakan, “Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati daripada hidup.” Tuhan menjawab, “Layakkah engkau marah?” Yunus pergi keluar dari kota itu, mendirikan pondok dan duduk di bawahnya untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Tuhan menghibur hati Yunus dengan menumbuhkan sebuah pohon untuk menyejukkannya dari terik matahari. Yunus sangat bersukacita, tetapi besoknya pohon itu layu karena digerek seekor ulat. Sinar matahari begitu menyakiti kepala Yunus sehingga dia mengatakan, “Lebih baiklah aku mati daripada hidup.” Tuhan menjawab, “Layakkah engkau marah?” Yunus menjawab, “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”
Tuhan hendak menunjukkan kasih sayang-Nya kepada semua orang, melintasi batas negara, suku, maupun budaya. Bagi Yunus, TUHAN adalah Tuhan bangsa Israel, yang memelihara dan mengampuni bangsa Israel. Dia tidak mau Tuhan mengampuni bangsa lain “yang jahat” dan menjadi Tuhan mereka. Yunus lebih rela mati daripada menjadi pembawa pesan keselamatan Tuhan kepada musuh Israel. Tetapi Tuhan sayang kepada orang Niniwe yang “tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri” itu.
Sebagai orang percaya, kita harus belajar untuk memandang seperti Tuhan memandang. Oleh karena itu kita diajarkan untuk mengasihi musuh kita. Seberapa jahat pun perbuatan yang sudah dilakukan oleh musuh kita, tetap kasih Tuhan jauh lebih berlimpah sehingga di dalam kelimpahan inilah kita menyatakan kasih kepada sesama manusia, terutama kepada musih kita. Kiranya Tuhan menolong kita untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka, karena dengan demikian kita menjadi anak-anak Bapa di sorga (Mat. 5:44-45). (YV)

