Musisi-musisi senior dari generasi sebelum kita memiliki gaya yang lebih tenang dan tidak banyak bergerak dalam pertunjukannya. Kita dapat melihat bagaimana Arthur Rubinstein atau Menahem Pressler tidak banyak melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan dengan badan mereka. Ketika mereka tampil, mereka sadar apa yang seharusnya menjadi fokus. Mereka fokus untuk memproyeksikan suara atau intonasi yang ada agar bisa sampai kepada penonton yang mendengar. Maka dengan sendirinya, badan mereka akan berhenti melakukan gerakan yang tidak perlu agar fokus mereka bisa bekerja secara maksimal.
Dalam kehidupan kita, sering kali kita melakukan sesuatu tanpa fokus yang jelas. Zaman kita menuntut kita untuk terus bergerak dan tidak memberikan ruang untuk berdiam. “Sepuluh hal yang harus dilakukan sebelum umur 30” atau “Segera belanja sebelum kehabisan” adalah kalimat-kalimat yang sering mendorong kita terus cepat bergerak menuju sesuatu. Ya dunia kita sering dipenuhi dengan ajakan-ajakan kepada kita agar melakukan sesuatu secara langsung dan segera, dan kita pun mengikutinya dengan tergesa-gesa tanpa berpikir panjang. Pada akhirnya, ketika kita sudah mengerjakan semuanya dan sampai kepada titik penghujung, kita mungkin akan merasa kosong dan tidak menemukan apa-apa, karena banyak hal yang kita kerjakan sebenarnya tidak perlu, dan malah membawa kita menjauh dari fokus utama hidup kita.
Di dalam menjalani kehidupan ini, ada saatnya kita perlu untuk berdiam. Bukan berdiam dalam pengertian pasif, berharap suatu saat keajaiban akan datang, dan semua permasalahan akan selesai dengan sendirinya. Berdiam namun kita tetap aktif. Aktif untuk menahan diri dari melakukan hal yang tidak perlu. Aktif untuk berpikir dan merenungkan apa yang menjadi fokus dan panggilan Tuhan di dalam hidup kita. Aktif untuk taat kepada perintah Tuhan, dan memikirkan setiap langkah yang perlu kita lakukan agar kehendak Tuhan terlaksana dengan baik.
Di tengah-tengah dunia yang bising ini, mari kita belajar untuk berdiam dan memikirkan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita. Memikirkan apa yang seharusnya kita kerjakan sebagai anak-anak Tuhan, sehingga kita bisa taat untuk berjalan dengan keyakinan dan penuh keberanian. Dengan demikian, segala hal di dunia ini yang bukan panggilan kita, akan bergeser dari fokus kita. Kiranya Tuhan menolong kita! (EG)

