Berdikari, inilah tujuan, makna, dan tanda kedewasaan seseorang. Makin cepat kita mandiri atau berdikari, maka kita akan dinilai makin baik. Kalau di usia muda sudah bisa mempunyai penghasilan sendiri, itu dianggap hebat. Maka tidak heran, kalau di usia muda sudah independen secara finansial itu menjadi idaman hampir semua orang muda. Konsep independen ini sebenarnya baik karena kita diajar untuk hidup bertanggung jawab atas waktu dan kemampuan di dalam hidup. Namun, kalau kita tidak berhati-hati, ada bahaya yang justru bisa merusak spiritualitas kita sebagai orang Kristen. Apa itu?
Makin kita bekerja mencari uang dan mandiri secara finansial, makin kita merasa mampu dan memiliki. Kita merasa makin mempunyai hak untuk menggunakan uang tersebut sesuai yang kita mau. “Aku sudah bekerja sangat keras untuk uang itu, apa salahnya aku menikmatinya? Aku sudah belajar dan bekerja dengan sangat giat untuk prestasi ini, apa salahnya aku menikmati pencapaianku atau posisiku yang sekarang?” You’ve earned it, well done! Apa salahnya?
Mari kita pikir sejenak! Kalau kita pinjam uang dari seseorang, kita pasti merasa berutang kepada mereka yang meminjamkannya. Kita ingin sesegera mungkin melunaskan utang tersebut. Kita ingin kembali bebas. Namun, apakah benar kalau kita pikir kita sudah bebas dan bebas utang? Kita akan mengiyakannya, karena kita sudah bebas dari utang. Kita tidak terikat lagi kepada orang lain. Mulai saat itu, semua hasil adalah milik kita bukan? Kita bisa melakukan apa pun yang kita suka dan menikmatinya, apalagi karena I’ve earned it. Kita sudah tidak punya utang. Sekali lagi, benarkah kita sudah tidak punya utang? Salah. Kita punya utang yang tidak mungkin lunas. Utang apakah itu? Utang hidup kepada Tuhan. Makin kita mencapai sesuatu, kita makin banyak utang kepada Tuhan. Kita tahu jelas, semua berkat berasal dari kebaikan Tuhan. Jadi, makin suksesnya kita, makin mandirinya kita, makin panjangnya umur kita, makin banyak kebaikan yang kita terima dari Tuhan, makin banyak utang kita kepada Tuhan.
Jadi, di dalam kekristenan makin mandiri bukan berarti kita makin tidak mempunyai utang dan bisa hidup sesuka hati kita. Makin mandiri justru berarti kita makin diberikan berkat anugerah serta kuasa dari Tuhan. Karena itu, makin kita diberikan anugerah lebih dari Tuhan, makin kita berutang kepada Tuhan, dan ini artinya makin kita harus memberikan pertanggungjawaban yang lebih kepada Tuhan (Luk. 12:48b). Dunia mengajarkan kemandirian agar kita bisa menikmati kerja keras kita untuk diri sendiri, tetapi Alkitab mengajarkannya berbeda. Mari kita mohon kepada Tuhan agar kita terus mempunyai perasaan berutang kepada Tuhan. Dengan kesadaran inilah baru kita bisa menjalani hidup ini dengan bertanggung jawab di hadapan Tuhan.
“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Luk. 12:48b) (SI)

