Atalia (2Raj. 8:18 , 2Raj. 11:1-3;20) adalah keturunan dari Raja Israel yaitu Ahab, cucu dari Omri, istri dari Raja Yehuda (Yoram) dan ibu dari Ahazia. Mengapa Atalia bisa menjadi ratu yang memimpin Kerajaan Yehuda? Setelah mengalami zaman keemasan pada masa Raja Daud dan Raja Salomo, Kerajaan Israel kemudian hancur dan terpecah menjadi dua yaitu Kerajaan Selatan dan Kerajaan Utara.
Pada saat Raja Yosafat, generasi ke-4 dari Raja Yehuda meraih kekayaan dan kehormatan yang besar, ia kemudian bersekutu dengan Raja Israel. Raja Yosafat mengawinkan anaknya, Yoram dengan putri Raja Ahab yang bernama Atalia. Yoram kemudian menjadi raja menggantikan ayahnya yang meninggal.
Seperti kelakuan Izebel, ibunya yang fasik dan lalim, Atalia juga menghasut suaminya, Yoram, untuk melakukan apa yang jahat di mata Tuhan selama delapan tahun pemerintahannya. Dan dengan sewenang-wenang Atalia juga menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Pada waktu Ahazia, putranya yang sangat jahat, mati setelah memerintah selama satu tahun, Atalia membunuh semua keturunan raja, kecuali Yoas yang masih kecil, karena telah disembunyikan oleh imam besar dan istrinya. Setelah menyingkirkan semua pesaingnya, Atalia mengangkat dirinya sebagai ratu dan memerintah selama enam tahun. Anak-anaknya juga merampok perbendaharaan rumah Tuhan dan mempersembahkannya kepada Baal.
Selama enam tahun kekuasaannya tidak terusik, kemudian imam besar Yoyada mengadakan pemberontakan dan mengembalikan takhta kerajaaan kepada anak Raja Yoram yaitu Yoas. Kemudian Atalia ditangkap dan dihukum mati.
Kisah Atalia ini mengajarkan kita bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Atalia mewarisi hidup fasik dari ayah ibunya dan yang telah diturunkan dari kakeknya Omri. Akhirnya juga diwariskan kepada anak-anaknya. Dosa begitu mengerikan!
Mari kita bertobat dan bijaksana di dalam menjalankan hidup ini, apa pun yang kita perbuat akan berdampak kepada keturunan kita dan menjadi tontonan semua orang, baik di dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan gereja. (SE)

