Bacaan: Matius 5:10
Di zaman ini, “hidup nyaman” sering dianggap sama sebagai tanda “diberkati” bahkan bagi orang Kristen sekalipun. Banyak orang memimpikan kehidupan yang tidak ada masalah, tidak ada tekanan, dan berjalan mulus. Apakah itu tanda hidup yang diberkati Tuhan?
Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan kenyamanan bagi mereka yang berjalan dalam kebenaran. Sebaliknya, Ia sendiri berkata, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku… Jika mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu.” (Yoh. 15:18-20). Bukankah ayat itu sangat tegas dan justru berlawanan dengan konsep kenyamanan? Tuhan ingin setiap orang Kristen turut menderita bagi Dia! Namun kabar baiknya, Tuhan juga berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Dalam lingkungan kita—di kantor, di kampus, di pergaulan, bahkan di gereja sekalipun—kita bisa dengan mudah memilih diam. Diam memberikan kondisi yang lebih aman, lebih “peaceful”, dan tidak ada gesekan. Faktanya, kebenaran yang dinyatakan secara utuh akan selalu berbenturan dengan dunia yang rusak, sebab dunia ini lebih mencintai kegelapan daripada terang. Dunia hari ini dipenuhi korupsi nilai; kesenangan yang memuja diri; penyelewengan yang diberi label “kebebasan”; dan suara-suara dusta yang dipoles menjadi seolah-olah benar. Banyak orang hidup jauh dari Allah tetapi merasa baik-baik saja.
Tetapi ketika kebenaran itu harus kita nyatakan secara terang-terangan, apakah kita tetap memilih diam dan terus berkompromi? Di tengah semua ini, di manakah suara kebenaran? Sering kali orang percaya memilih tenang: tidak mau ribut, tidak mau dianggap fanatik, dan tidak mau dibenci. Namun justru di titik inilah kita perlu bercermin: jika hidup kita tidak pernah menimbulkan perlawanan, mungkin hidup kita sejalan dengan dunia ini dan tidak sedang berjalan dalam terang kebenaran.
Ketika Yesus berkata “berbahagialah”, Ia sedang membalikkan cara pandang dunia. Dunia berkata: hindari masalah, kejar kenyamanan, dan jangan cari musuh. Yesus berkata: nyatakan kebenaran, sekalipun engkau harus menderita karenanya. Kebenaran harus dinyatakan melalui hidup kita, bahkan ketika itu mengundang ketidakadilan dan penganiayaan.
Kebenaran yang sejati selalu menelanjangi kebobrokan, selalu memanggil orang bertobat, dan selalu menantang status quo. Dan ketika kebenaran dinyatakan, dunia pasti menolak, melawan, bahkan menganiaya kita.
Sejarah gereja penuh dengan saksi: para rasul, para nabi, dan para raksasa iman. Mereka bukan dibenci karena jahat; mereka dibenci karena menyatakan kebenaran. Mereka berani membongkar kebohongan, korupsi moral, penyimpangan, dan ketidakadilan.
Ini bukan tugas segelintir orang, melainkan panggilan setiap orang Kristen: berdiri bagi kebenaran, sekalipun harus membayar harga mahal.
Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup nyaman, tetapi untuk hidup benar. Ia tidak memanggil kita untuk disukai dunia, tetapi untuk setia kepada Tuhan. Ia tidak memanggil kita untuk bersembunyi, tetapi untuk bersuara. Dan ketika kita harus menderita karena kebenaran—bahkan sekecil apa pun—ingatlah janji ini: “…karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”.
Mari bangkit, bersuara, dan menyatakan kebenaran dengan berani. Di dunia yang makin gelap ini, Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang—bukan sekadar menerangi, tetapi juga menyingkapkan. Dan bila kegelapan itu melawan, berbahagialah, sebab Kerajaan itu milik kita. (AA)

