Janji Tuhan melampaui hidup manusia yang terbatas, itulah iman Daud di dalam lagu terakhirnya (2Sam. 23:1-7). Daud tidak takut mati karena dia tahu Tuhan menyertainya di lembah kekelaman. Daud tenang karena dia telah menjalankan kehidupannya dengan takut akan Tuhan, melakukan kebenaran dan keadilan. Walaupun Daud sadar akan dosa-dosanya: berzinah dengan Batsyeba dan membunuh suaminya, hampir membunuh orang-orang yang tidak bersalah karena marah kepada Nabal, mengadakan sensus terhadap tentaranya, namun dia juga tahu bahwa Tuhan telah mengampuninya. Terlepas dari semua pergumulan hidupnya, Daud di akhir hidupnya tetap percaya bahwa melalui keturunannya, Tuhan akan memunculkan keselamatan bagi segala bangsa dan tidak ada yang dapat menghalanginya. Walaupun sekarang kelihatannya kecil tetapi akan tumbuh besar dan membinasakan semua musuh Tuhan.
Ketika Daud berhadapan dengan Goliat–yang bahkan ditakuti oleh Raja Saul–Daud yakin bahwa Tuhan yang menyertainya di masa lampau (menang melawan singa dan beruang) akan menyertainya sekarang (menang melawan Goliat yang adalah musuh Tuhan). Daud juga yakin Tuhan yang telah mengurapinya sebagai raja akan menggenapinya sehingga ia tidak perlu mengulurkan tangannya terhadap Saul yang mau membunuhnya. Daud percaya penuh kepada Tuhan yang memanggilnya. Daud percaya sepenuhnya akan penyertaan Tuhan yang tidak mungkin gagal. Daud percaya hidupnya hanya butuh penyertaan Tuhan, selain itu tidak ada yang lebih penting atau lebih besar. Bagi Daud, apa pun boleh terjadi asal Tuhan tidak meninggalkannya, bahkan dihukum Tuhan pun masih lebih baik daripada ditinggalkan Tuhan.
Hal apakah yang terbesar di dalam hidup kita? Harta terbesar apa yang tidak boleh tidak ada di dalam hidup kita? Kiranya kita tahu bagaimana benar-benar treasure and seek penyertaan Tuhan di dalam hidup kita yang sementara dan terbatas ini. (YV)

