Seorang gadis tanpa sengaja menjatuhkan piring saat bekerja lalu menangis. Begitu mendengar suara piring pecah di dapur restoran, sang pemilik bergegas menghampiri gadis itu dan berkata dengan penuh pengertian, “Mungkin sekarang kamu ingin pulang ke rumah, tidak apa-apa, kembalilah besok.” Tetapi gadis itu menjawab, “Rumah, itu adalah tempat terakhir yang ingin aku tuju.”
Rumah kita di dunia bisa jadi tempat di mana kita tidak ingin berada, sehingga banyak orang lebih sering berada di luar rumah. Mungkin saja rumah sebagai bangunan kurang memadai untuk memberikan kenyamanan dan keamanan, tetapi lebih sering masalahnya terletak pada dengan ada siapa di rumah itu. Yakub tidak bisa terus tinggal di rumahnya karena ia telah membuat kesalahan fatal terhadap kakaknya, Esau. Yusuf tidak bisa terus tinggal bersama ayahnya, karena dengan keluguannya ia telah membangkitkan kebencian di hati saudara-saudaranya. Abraham dan Lot tidak bisa terus tinggal bersama karena lahan yang mereka tinggali tidak sanggup mencukupi kebutuhan mereka yang sangat besar.
Rumah bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman, tetapi juga bisa menjadi tempat yang berbahaya dan sumber penderitaan. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan kapan, di mana, oleh siapa, sebagai apa (anak satu-satunya/bersaudara), bagaimana dilahirkan, dan lain sebagainya. Tetapi kita bisa memilih bagaimana berespons terhadap kehidupan kita yang sulit ataupun mudah. Pengkhotbah mempersilakan kita untuk hidup bersuka, menuruti keinginan hati dan pandangan mata kita, membuang segala kesedihan dari hati, menjauhkan penderitaan dari tubuh kita. Hal-hal yang secara alami pasti kita lakukan tanpa perlu diberitahu atau diajar. Tetapi Pengkhotbah tidak berhenti sampai di situ, ada peringatan yang diberikan segera setelah kalimat itu, yaitu, “ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!”
Ketika masa kita di dunia berakhir, ke manakah kita akan pergi? Apakah dengan kekuatan kita sendiri kita sanggup berjalan menuju sorga? Apakah kita cukup syarat sehingga berhak memasuki tempat kekal yang suci dan indah, jika kita mendasarkannya pada perbuatan baik kita sendiri? Hidup kita dengan semua perjuangannya hanya sanggup membawa kita dengan kecepatan tinggi menuju neraka, tempat kekal yang berisi murka dan penghukuman.
Namun, Alkitab senantiasa mengingarkan kita, bahwa hidup kita bagaikan kisah dalam “Footprints in the Sand”. Di saat-saat sulit, terlihat hanya ada satu pasang jejak kaki, itu adalah saat Juru Selamat kita menggendong kita berjalan melewatinya. Hal Kerajaan Sorga adalah hal anugerah, Allah memberikan gratifikasi kepada kita, orang-orang terpidana, untuk menikmati rumah-Nya ganti penjara bawah tanah. Itulah kisah Kerajaan Sorga, kisah bagaimana Allah menggendong pulang orang-orang penuh ketidaklayakan oleh Sang Allah yang Maha Baik. Satu per satu digendongnya pulang sampai ke rumah Bapa di sorga.
Marilah kita hidup penuh sukacita dan saling mengasihi, karena kita semua sedang digendong pulang oleh Juru Selamat kita di dalam anugerah-Nya. Kita yang seharusnya terbuang selamanya, sekarang boleh pulang sampai ke rumah Bapa. Bersukacitalah! (YV)

