Zaman terus berubah, tren datang dan pergi, dan dunia sekarang seolah menuntut setiap anak muda untuk “menjadi seseorang” sebelum usia tiga puluh. Di tengah tekanan itu, banyak yang mulai menilai diri berdasarkan ukuran dunia—gelar, gaji, dan gengsi. Tetapi Alkitab mengatakan hal yang lain dan seolah bertanya dengan bisikan lembut: apakah hidupmu dikendalikan oleh situasi, atau dipimpin oleh kehendak Tuhan?
Ketika ada seorang mahasiswa berprestasi, punya segalanya—IPK tinggi, riwayat berorganisasi yang lengkap, bahkan sudah ada tawaran kerja sebelum ia lulus, namun di tengah semua itu, jiwanya kosong. Ia mengejar kesuksesan, tetapi tak pernah merasa cukup. Alkitab berkata pada Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Seharusnya kita bisa sadar bahwa hidup bukan tentang “jadi besar”, tetapi tentang “makin taat di mana Tuhan menempatkan kita”. Kesuksesan sejati bukan ketika dunia bertepuk tangan, tetapi ketika Allah berkenan!!!
Martin Luther King Jr. pernah berkata, “If it falls your lot to be a street sweeper, sweep streets like Michelangelo painted pictures, like Beethoven composed music, like Shakespeare wrote poetry. Sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will have to pause and say: Here lived a great street sweeper who did his job well.” Maksudnya jelas: setiap panggilan hidup—sekalipun sederhana—menjadi mulia ketika dikerjakan dalam ketaatan kepada Allah. Jadi, sukses di mata Tuhan adalah ketika kita menggenapi kehendak-Nya, meski itu berarti jalan yang kecil, tidak populer, bahkan sepi pujian.
Karena kita bukanlah ciptaan yang hidup demi dunia ini, melainkan ciptaan Allah yang mulia, maka hidup kita bukanlah ditentukan oleh situasi dan waktu yang terus bergulir—melainkan oleh Dia yang sudah menetapkan kita dalam panggilan yang kekal.
Dan ingatlah: taat kepada Allah bukanlah undangan untuk bersantai dan menunda; dunia ini penuh godaan untuk lengah—tetapi kita dipanggil untuk memanfaatkan waktu dengan bijaksana (Ef. 5:15-16).
Hidup yang dipimpin oleh kehendak Tuhan adalah satu-satu-nya hidup yang benar-benar berarti, “Siapa yang ingin menyelamatkan nyawanya akan kehilangannya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku dan Injil akan menyelamatkannya” (Mrk. 8:35). Marilah kita hidup bukan demi diri sendiri, melainkan demi Dia yang menjadikan kita dan yang memanggil kita ke dalam hidup yang abadi. Dengan demikian, seluruh perjuangan hidup kita menyatakan Dialah Allah kita dan bukan yg lain. (TH)

